Rabb, nafas demi nafas yang kuhirup tiada harga, Kau berikan padaku dengan cinta.
Rabb, nikmat demi nikmat dunia Kau silih pergantikan, selalu saja namun
Kau tak pernah mengazabku secara langsung kala ku lupa bersyukur.
Rabb,
ujian demi ujian bagiku, setelah kucermati, tak pernah melebihi derita
dakwah NabiMu, yang diejek dan ditertawakan dalam amal. Aku menjadi malu
kalau tak mampu sabar seperti khalil-Mu.
Rabb, kutahu dalam ketidaksempurnaan ini, Kau selalu mencintaiku.
Rabb, kala hujan kau masih memberiku keteduhan dalam rumah, kala panas pun begitu.
Rabb, seperti surat cinta-Mu yang tak pernah diduakan (al-Qur’an) kau
ceritakan tentang sinergi langit dan bumi-Mu. Kalau langit menurunkan
hujan, bumi tumbuh subur, terus saja begitu.
Rabb, kalau aku
boleh berbisik pada-Mu, kuingin setiap nikmat yang Kau hujani padaku,
aku sambut layaknya bumi dengan menyuburkan lagi amal-amalku.
Rabb, sepanjang perjalanan kulihat lagi ciptaan-Mu, semakin kulihat
seperti Kau sampaikan dalam surat cinta-Mu, semakin kulihat, tak mampu
kudapatkan kecacatan. Hijaunya daun, ukurannya yang variatif, sungguh
menawan.
Rabb, kala Kau menyampaikan ketika aku berjalan
menuju-Mu, lalu Kau datang padaku dengan berlari, aku semakin tak
sanggup menahan air yang menggenang di kedua mata yang sering lalai ini,
tumpah ruah, aku malu dengan kecepatan-Mu menghampiriku.
Rabb, aku tak bisa berhenti mencintai-Mu, kuharap akan lahir taat, tadhiyah, khauf hanya untuk-Mu.
Rabb, boleh kan aku utarakan lagi dalam ketidaksempurnaan aku yang dhaif ini,
Rabb, aku tak bisa berhenti mencintai-Mu.
Maret 06, 2012
Nabi Yusuf Alaihissalam dan Kebangkitan Mesir
Di antara sunnatullah (hukum Allah) adalah bahwa Allah Ta’ala memberikan
cobaan kepada pengemban dakwah sebelum menjadikannya berkuasa di muka
bumi. Inilah sunnatullah yang tidak akan berubah seperti yang
diterangkan dalam firman Allah Ta’ala, “(Demikianlah) hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu.”(QS. Al-Fath: 23).
Adalah Nabi Yusuf Alaihissalam salah seorang pengemban dakwah itu. Dia pernah digoda dan dirayu oleh seorang istri penguasa di zamannya dengan perhiasan dan keindahan parasnya. Peristiwa ini disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, “Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)
Sungguh Allah Ta’ala telah menyelamatkannya dari perbuatan haram dan perzinaan. Lazim diketahui bahwa di usia muda, naluri seksual seseorang masih menggebu-gebu. Naluri ini merupakan makhluk buta yang tidak dapat melihat, makhluk tuli yang tidak bisa mendengar, makhluk bisu yang tidak bisa berbicara, naluri yang mendesak empunya untuk menyalurkannya dengan melakukan kemaksiatan dan dosa. Hal yang sama juga dirasakan Nabi Yusuf Alaihissalam, meskipun dia masih muda dan berada jauh dari pantauan orang-orang, meskipun dia hanya berdua dengan istri penguasa itu, akan tetapi dia lebih memilih untuk berpegang teguh dengan tali agama Allah sehingga Allah pun menjaga kehormatannya. Allah Ta’ala berfirman tentang perkataan istri penguasa tersebut, “Dan sungguh, aku telah menggoda untuk menundukkan dirinya tetapi dia menolak” (QS. Yusuf: 32). Penyebab Yusuf Alaihissalam terhindar dari kemaksiatan adalah seperti yang diterangkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24). Sungguh, siapa saja yang mengingat Allah Ta’ala di waktu lapang Allah akan mengingatnya di waktu sempit.
Yusuf Alaihissalam lebih memilih ujian dalam urusan dunia dari pada diuji dalam urusan agama, sehingga dia pun mau mendekam di penjara walau dalam keadaan terzhalimi, sebab dia merasa bahwa dirinya hampir jatuh ke dalam jurang perzinaan dan kenistaan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa “Tidaklah sempurna keimanan seseorang yang sedang berbuat zina.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Cobaan yang dilalui oleh Nabi Yusuf Alaihissalam sangat berat. Dia dijebloskan ke dalam penjara karena perbuatan yang tidak pernah dia lakukan sama sekali. Dia menerima semuanya dengan hati yang tenang dan menyerahkannya kepada Allah Ta’ala; sebab dia yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dunia ini melainkan atas izin dan kehendak Allah Ta’ala. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman, “Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. Maka Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu.” (QS. Yusuf: 33-35).
Yusuf Alaihissalam telah berhasil melalui berbagai cobaan yang berat, sehingga dia menjadi salah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di negeri Mesir kala itu. Imam Syafi’i pernah ditanya, “Manakah yang lebih dahulu antara diuji atau mempunyai kedudukan?” Dia berkata, “Tidak ada seorang pun yang mempunyai kedudukan sebelum diuji terlebih dahulu.”
Yusuf Alaihissalam Seorang Dai yang Dipenjara
Meskipun dijebloskan ke dalam penjara karena fitnah yang dilontarkan seorang istri penguasa kepadanya, Yusuf Alaihissalam tetap berdakwah dan menyampaikan nasihat kepada orang lain yang berada di penjara bersamanya. Hal ini tergambar dalam firman Allah Ta’ala, “Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara…” (QS. Yusuf: 36).
Setelah beberapa lama berinteraksi dengan Yusuf Alaihissalam, kedua pemuda itu dapat mengenal kepribadian dan budi pekertinya yang baik di samping ketakwaan dan keshalihannya. Oleh karena itu, ketika dua pemuda tersebut bermimpi maka mereka pun berkata kepada Nabi Yusuf Alaihissalam, “Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 36). Karakter dai sejati akan selalu terlihat kapan pun dan di manapun dia berada. Aqidah yang bersih, ibadah yang benar dan budi pekerti yang baik akan senantiasa terpatri dalam dirinya setiap saat, bahkan ketika berada dalam penjara dan mengalami kesulitan di dalam hidupnya.
Yusuf Alaihissalam membuktikan kenabiannya kepada mereka dengan takwil mimpi. Dia dapat mengetahui makanan apa pun yang akan diberikan sebelum sampai kepada mereka berdua. Ini adalah pengetahuan tentang sesuatu yang gaib. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal-hal yang gaib selain Allah dan orang-orang diberitahu Allah di antara para Nabi dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.” (QS. Al-Jinn: 27).
Sifat rendah hati Yusuf Alaihissalam terlihat oleh teman-temannya di penjara ketika menyandarkan ilmu yang diketahuinya kepada Pemiliknya yang hakiki, yakni Allah Ta’ala dengan mengatakan, “Itu sebagian dari yang diajarkan Tuhan kepadaku.” (QS. Yusuf: 37). Ini adalah salah satu metode Nabi Yusuf Alaihissalam dalam mengajak mereka untuk beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya. Dialah Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi.
Salah satu bentuk pengaplikasian tauhid di dalam kehidupan sehari-hari adalah sikap loyalitas dan anti loyalitas yang dapat dilakukan dengan mengingkari perbuatan syirik dan penyembahan terhadap berhala. Yusuf Alaihissalam telah menyatakannya secara eksplisit kepada kaumnya dan mengajak mereka untuk beriman kepada Allah Ta’ala dengan menuturkan, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka tidak percaya kepada hari akhirat.” (QS. Yusuf: 37).
Nabi Yusuf Alaihissalam mengikuti metode dakwah para pendahulunya dari Nabi dan Rasul yang telah diutus kepada kaumnya masing-masing. Dia bukan orang yang melakukan perbuatan bid’ah dalam kenabian dan urusan agama, namun dia adalah pengikut setia agama yang benar. Allah Ta’ala menerangkan perkataan Nabi Yusuf Alaihissalam dalam firman-Nya, “Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishaq dan Ya‘qub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah.” (QS. Yusuf: 38). Nabi Yusuf Alaihissalam pun menyandarkan semua nikmat yang diterimanya kepada Allah semata dengan menyatakan, “Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Yusuf: 38)
Setelah itu, Yusuf Alaihissalam berdialektika dengan teman-temannya di penjara mengenai tuhan-tuhan yang selama ini mereka sembah. “Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa, Maha perkasa?” (QS. Yusuf: 39). Allah adalah Tuhan yang sebenarnya dan apa saja yang diseru selain Allah adalah batil. Sebab, tuhan-tuhan yang disembah kaumnya dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri dan mereka pula yang memberinya nama. Sesembahan yang mereka anggap sebagai Tuhan itu tidak dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya untuk dirinya apalagi untuk orang lain.
Yusuf pun menyoroti masalah urgen dalam hal mengesakan Allah yaitu masalah hukum dan pemerintahan. Hal ini harus dijalankan sesuai dengan rambu-rambu yang telah diatur oleh Allah Ta’ala, dan tidak boleh dipersembahkan untuk Tuhan selain Allah atau pun manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua ibadah harus diniatkan hanya untuk Allah.
Yusuf Berperan Sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan dan Pertanian
Kisah Yusuf Alaihissalam yang berperan sebagai menteri perencanaan pembangunan dan pertanian dimulai ketika dia menafsirkan mimpi raja. Yusuf Alaihissalam adalah salah seorang Nabi yang dikaruniai Allah Ta’ala kemampuan menafsirkan mimpi di masanya. Pada saat menjalani hukum di penjara dia harus menafsirkan mimpi orang yang memusuhinya yakni raja Mesir pada zaman itu. Yusuf Alaihissalam tetap menyebutkan tafsir mimpi yang benar dan memberi saran yang baik kepada sang raja tanpa mengharapkan imbalan moril maupun materiil. Allah Ta’ala berfirman, “Dan raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.” (QS. Yusuf: 47)
Pada saat itu tidak seorang pun yang mampu menakwilkan mimpi tersebut dan para pejabat kerajaan mengatakan, “Itu adalah mimpi-mimpi yang kosong.” Salah seorang teman Yusuf yang pernah berada di penjara bersamanya meminta kepada raja untuk memberitahukan mimpi yang dialaminya itu kepada Yusuf; karena dia pernah menakwilkan mimpi yang alaminya.
Setelah mendengarkan pemaparan utusan raja, Yusuf menyusun strategi jitu dalam jangka 15 tahun untuk menyelamatkan negara dari bencana kelaparan. Seperti ditafsirkan, bahwa akan datang musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga diperlukan strategi agar rakyat Mesir mempunyai cadangan pangan yang cukup. Allah Ta’ala berfirman, “Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yusuf: 47).
Masyarakat dihimbau untuk mengkonsumsi makanan secukupnya agar dapat menyisakannya sedikit untuk masa paceklik dan krisis bahan pangan. Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.” (QS. Yusuf: 48).
Di masa paceklik dan krisis bahan pangan rakyat akan bergantung kepada cadangan pangan yang mereka miliki. Jika orang-orang tidak memiliki persediaan makanan yang cukup maka apa yang harus mereka lakukan dalam situasi yang sulit ini? Tidak diragukan lagi mereka harus berutang kepada orang lain. Seperti yang dikatakan pepatah, utang membuat gelisah di malam hari dan membuat malu diri sendiri di hadapan orang lain pada siang hari.
Setelah masa sempit datanglah masa kejayaan, dan setelah kegelapan terbitlah fajar. Itulah tahun ke-15 seperti yang ditakwilkan oleh Nabi Yusuf Alaihissalam. Pada masa itu hujan turun membasahi bumi yang membuatnya hijau dan tanaman pun tumbuh di mana-mana, sehingga banyaklah pohon yang berbuah dan dapat dipetik manusia dengan mudah. Allah Ta’ala berfirman, “Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS. Yusuf: 49).
Demikianlah yang ditafsirkan oleh Yusuf Alaihissalam. Dia pernah diminta untuk pergi menemui raja, namun dia menolak sampai dibuktikan bahwa dia benar-benar tidak bersalah terkait fitnah yang dialamatkan kepada dirinya. Dia berharap pengadilan bersedia membuka kembali berkas kasusnya dan membuktikan siapa sebenarnya yang bersalah sehingga pengadilan merehabilitasi namanya. Dan memang benar, Yusuf Alaihissalam tidak bersalah sama sekali, dia berada di pihak yang benar. Kebenarannya ibarat sinar matahari pada siang hari, cahaya bulan di malam hari dan cahaya fajar di waktu subuh. Istri penguasa yang memfitnahnya mengakui kesalahannya. Wanita itu bersaksi bahwa dialah yang melakukan konspirasi terhadap Yusuf Alaihissalam. Kesaksiannya diperkuat oleh perempuan-perempuan yang melukai tangannya sendiri dengan pisau tanpa sadar ketika melihat Yusuf Alaihissalam menemui mereka. Yusuf Alaihissalam pun keluar dari penjara dalam keadaan terhormat menuju istana raja. Allah Ta’ala berfirman, “Istri Al-Aziz berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.” (QS. Yusuf: 51).
Yusuf Alaihissalam seorang pesakitan yang dulunya berada di penjara dan sekarang diangkat menjadi seorang menteri. Tidak ada keraguan bahwasanya seseorang tidak disyariatkan untuk menggangap dirinya suci dan tidak pula meminta-minta jabatan. Namun apabila tidak seorang pun yang kapabel dalam sebuah jabatan maka dia harus berada di garis terdepan untuk memangkunya. Sebab, dia adalah Nabi yang selalu menerima wahyu dari Allah, sehingga dia tidak takut dihinggapi rasa sombong dan takabur. Allah Ta’ala berfirman, “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 51). Sifat amanah sangat ditekankan bagi para pemangku jabatan seperti menteri. Sebab, harta kekayaan negara berada di bawah kekuasaannya, dialah yang mendistribusikannya tanpa ada pihak mengawasinya. Sehingga seorang menteri atau bendaharawan harus mempunyai kredibilitas yang tinggi. Karakter pribadi Yusuf inilah yang mengantarkannya kepada kedudukan yang mulia, oleh karena itu sifatnya sebagai seorang yang pandai menjaga amanah disebutkan sebelum sifatnya sebagai orang yang berpengetahuan seperti yang digambarkan ayat di atas.
Dalam firman Allah Ta’ala di atas juga dapat kita pahami bahwa semua kekayaan negeri Mesir sangat cukup untuk penduduknya jika dikelola oleh seorang pemimpin yang amanah dalam tugasnya, mampu memberdayakan potensi yang ada di negeri ini, sanggup mengerahkan seluruh kemampuannya, dan bisa menciptakan inovasi-inovasi yang hebat.
Kisah Yusuf Alaihissalam ini berakhir bahagia karena Allah Ta’ala menganugerahkan kedudukan kepadanya di negeri Mesir. Tidak ada yang terjadi di dunia ini kecuali atas kehendak Allah Ta’ala. Inilah petunjuk Allah kepada Nabi Yusuf Alaihissalam. Peran Yusuf Alaihissalam hanyalah menjalankan tugasnya secara profesional dan proporsional, sementara pahala hanya berasal dari Allah semata bukan dari manusia. Allah Ta’ala berfirman, “Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56)
Hanya kepada Allah kita memohon agar menjadikan kita termasuk di antara orang-orang yang beramal dengan ikhlas karena mengharapkan ridha-Nya. Amiin.
Adalah Nabi Yusuf Alaihissalam salah seorang pengemban dakwah itu. Dia pernah digoda dan dirayu oleh seorang istri penguasa di zamannya dengan perhiasan dan keindahan parasnya. Peristiwa ini disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, “Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)
Sungguh Allah Ta’ala telah menyelamatkannya dari perbuatan haram dan perzinaan. Lazim diketahui bahwa di usia muda, naluri seksual seseorang masih menggebu-gebu. Naluri ini merupakan makhluk buta yang tidak dapat melihat, makhluk tuli yang tidak bisa mendengar, makhluk bisu yang tidak bisa berbicara, naluri yang mendesak empunya untuk menyalurkannya dengan melakukan kemaksiatan dan dosa. Hal yang sama juga dirasakan Nabi Yusuf Alaihissalam, meskipun dia masih muda dan berada jauh dari pantauan orang-orang, meskipun dia hanya berdua dengan istri penguasa itu, akan tetapi dia lebih memilih untuk berpegang teguh dengan tali agama Allah sehingga Allah pun menjaga kehormatannya. Allah Ta’ala berfirman tentang perkataan istri penguasa tersebut, “Dan sungguh, aku telah menggoda untuk menundukkan dirinya tetapi dia menolak” (QS. Yusuf: 32). Penyebab Yusuf Alaihissalam terhindar dari kemaksiatan adalah seperti yang diterangkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24). Sungguh, siapa saja yang mengingat Allah Ta’ala di waktu lapang Allah akan mengingatnya di waktu sempit.
Yusuf Alaihissalam lebih memilih ujian dalam urusan dunia dari pada diuji dalam urusan agama, sehingga dia pun mau mendekam di penjara walau dalam keadaan terzhalimi, sebab dia merasa bahwa dirinya hampir jatuh ke dalam jurang perzinaan dan kenistaan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa “Tidaklah sempurna keimanan seseorang yang sedang berbuat zina.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Cobaan yang dilalui oleh Nabi Yusuf Alaihissalam sangat berat. Dia dijebloskan ke dalam penjara karena perbuatan yang tidak pernah dia lakukan sama sekali. Dia menerima semuanya dengan hati yang tenang dan menyerahkannya kepada Allah Ta’ala; sebab dia yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dunia ini melainkan atas izin dan kehendak Allah Ta’ala. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman, “Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. Maka Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu.” (QS. Yusuf: 33-35).
Yusuf Alaihissalam telah berhasil melalui berbagai cobaan yang berat, sehingga dia menjadi salah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di negeri Mesir kala itu. Imam Syafi’i pernah ditanya, “Manakah yang lebih dahulu antara diuji atau mempunyai kedudukan?” Dia berkata, “Tidak ada seorang pun yang mempunyai kedudukan sebelum diuji terlebih dahulu.”
Yusuf Alaihissalam Seorang Dai yang Dipenjara
Meskipun dijebloskan ke dalam penjara karena fitnah yang dilontarkan seorang istri penguasa kepadanya, Yusuf Alaihissalam tetap berdakwah dan menyampaikan nasihat kepada orang lain yang berada di penjara bersamanya. Hal ini tergambar dalam firman Allah Ta’ala, “Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara…” (QS. Yusuf: 36).
Setelah beberapa lama berinteraksi dengan Yusuf Alaihissalam, kedua pemuda itu dapat mengenal kepribadian dan budi pekertinya yang baik di samping ketakwaan dan keshalihannya. Oleh karena itu, ketika dua pemuda tersebut bermimpi maka mereka pun berkata kepada Nabi Yusuf Alaihissalam, “Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 36). Karakter dai sejati akan selalu terlihat kapan pun dan di manapun dia berada. Aqidah yang bersih, ibadah yang benar dan budi pekerti yang baik akan senantiasa terpatri dalam dirinya setiap saat, bahkan ketika berada dalam penjara dan mengalami kesulitan di dalam hidupnya.
Yusuf Alaihissalam membuktikan kenabiannya kepada mereka dengan takwil mimpi. Dia dapat mengetahui makanan apa pun yang akan diberikan sebelum sampai kepada mereka berdua. Ini adalah pengetahuan tentang sesuatu yang gaib. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal-hal yang gaib selain Allah dan orang-orang diberitahu Allah di antara para Nabi dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.” (QS. Al-Jinn: 27).
Sifat rendah hati Yusuf Alaihissalam terlihat oleh teman-temannya di penjara ketika menyandarkan ilmu yang diketahuinya kepada Pemiliknya yang hakiki, yakni Allah Ta’ala dengan mengatakan, “Itu sebagian dari yang diajarkan Tuhan kepadaku.” (QS. Yusuf: 37). Ini adalah salah satu metode Nabi Yusuf Alaihissalam dalam mengajak mereka untuk beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya. Dialah Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi.
Salah satu bentuk pengaplikasian tauhid di dalam kehidupan sehari-hari adalah sikap loyalitas dan anti loyalitas yang dapat dilakukan dengan mengingkari perbuatan syirik dan penyembahan terhadap berhala. Yusuf Alaihissalam telah menyatakannya secara eksplisit kepada kaumnya dan mengajak mereka untuk beriman kepada Allah Ta’ala dengan menuturkan, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka tidak percaya kepada hari akhirat.” (QS. Yusuf: 37).
Nabi Yusuf Alaihissalam mengikuti metode dakwah para pendahulunya dari Nabi dan Rasul yang telah diutus kepada kaumnya masing-masing. Dia bukan orang yang melakukan perbuatan bid’ah dalam kenabian dan urusan agama, namun dia adalah pengikut setia agama yang benar. Allah Ta’ala menerangkan perkataan Nabi Yusuf Alaihissalam dalam firman-Nya, “Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishaq dan Ya‘qub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah.” (QS. Yusuf: 38). Nabi Yusuf Alaihissalam pun menyandarkan semua nikmat yang diterimanya kepada Allah semata dengan menyatakan, “Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Yusuf: 38)
Setelah itu, Yusuf Alaihissalam berdialektika dengan teman-temannya di penjara mengenai tuhan-tuhan yang selama ini mereka sembah. “Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa, Maha perkasa?” (QS. Yusuf: 39). Allah adalah Tuhan yang sebenarnya dan apa saja yang diseru selain Allah adalah batil. Sebab, tuhan-tuhan yang disembah kaumnya dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri dan mereka pula yang memberinya nama. Sesembahan yang mereka anggap sebagai Tuhan itu tidak dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya untuk dirinya apalagi untuk orang lain.
Yusuf pun menyoroti masalah urgen dalam hal mengesakan Allah yaitu masalah hukum dan pemerintahan. Hal ini harus dijalankan sesuai dengan rambu-rambu yang telah diatur oleh Allah Ta’ala, dan tidak boleh dipersembahkan untuk Tuhan selain Allah atau pun manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua ibadah harus diniatkan hanya untuk Allah.
Yusuf Berperan Sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan dan Pertanian
Kisah Yusuf Alaihissalam yang berperan sebagai menteri perencanaan pembangunan dan pertanian dimulai ketika dia menafsirkan mimpi raja. Yusuf Alaihissalam adalah salah seorang Nabi yang dikaruniai Allah Ta’ala kemampuan menafsirkan mimpi di masanya. Pada saat menjalani hukum di penjara dia harus menafsirkan mimpi orang yang memusuhinya yakni raja Mesir pada zaman itu. Yusuf Alaihissalam tetap menyebutkan tafsir mimpi yang benar dan memberi saran yang baik kepada sang raja tanpa mengharapkan imbalan moril maupun materiil. Allah Ta’ala berfirman, “Dan raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.” (QS. Yusuf: 47)
Pada saat itu tidak seorang pun yang mampu menakwilkan mimpi tersebut dan para pejabat kerajaan mengatakan, “Itu adalah mimpi-mimpi yang kosong.” Salah seorang teman Yusuf yang pernah berada di penjara bersamanya meminta kepada raja untuk memberitahukan mimpi yang dialaminya itu kepada Yusuf; karena dia pernah menakwilkan mimpi yang alaminya.
Setelah mendengarkan pemaparan utusan raja, Yusuf menyusun strategi jitu dalam jangka 15 tahun untuk menyelamatkan negara dari bencana kelaparan. Seperti ditafsirkan, bahwa akan datang musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga diperlukan strategi agar rakyat Mesir mempunyai cadangan pangan yang cukup. Allah Ta’ala berfirman, “Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yusuf: 47).
Masyarakat dihimbau untuk mengkonsumsi makanan secukupnya agar dapat menyisakannya sedikit untuk masa paceklik dan krisis bahan pangan. Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.” (QS. Yusuf: 48).
Di masa paceklik dan krisis bahan pangan rakyat akan bergantung kepada cadangan pangan yang mereka miliki. Jika orang-orang tidak memiliki persediaan makanan yang cukup maka apa yang harus mereka lakukan dalam situasi yang sulit ini? Tidak diragukan lagi mereka harus berutang kepada orang lain. Seperti yang dikatakan pepatah, utang membuat gelisah di malam hari dan membuat malu diri sendiri di hadapan orang lain pada siang hari.
Setelah masa sempit datanglah masa kejayaan, dan setelah kegelapan terbitlah fajar. Itulah tahun ke-15 seperti yang ditakwilkan oleh Nabi Yusuf Alaihissalam. Pada masa itu hujan turun membasahi bumi yang membuatnya hijau dan tanaman pun tumbuh di mana-mana, sehingga banyaklah pohon yang berbuah dan dapat dipetik manusia dengan mudah. Allah Ta’ala berfirman, “Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS. Yusuf: 49).
Demikianlah yang ditafsirkan oleh Yusuf Alaihissalam. Dia pernah diminta untuk pergi menemui raja, namun dia menolak sampai dibuktikan bahwa dia benar-benar tidak bersalah terkait fitnah yang dialamatkan kepada dirinya. Dia berharap pengadilan bersedia membuka kembali berkas kasusnya dan membuktikan siapa sebenarnya yang bersalah sehingga pengadilan merehabilitasi namanya. Dan memang benar, Yusuf Alaihissalam tidak bersalah sama sekali, dia berada di pihak yang benar. Kebenarannya ibarat sinar matahari pada siang hari, cahaya bulan di malam hari dan cahaya fajar di waktu subuh. Istri penguasa yang memfitnahnya mengakui kesalahannya. Wanita itu bersaksi bahwa dialah yang melakukan konspirasi terhadap Yusuf Alaihissalam. Kesaksiannya diperkuat oleh perempuan-perempuan yang melukai tangannya sendiri dengan pisau tanpa sadar ketika melihat Yusuf Alaihissalam menemui mereka. Yusuf Alaihissalam pun keluar dari penjara dalam keadaan terhormat menuju istana raja. Allah Ta’ala berfirman, “Istri Al-Aziz berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.” (QS. Yusuf: 51).
Yusuf Alaihissalam seorang pesakitan yang dulunya berada di penjara dan sekarang diangkat menjadi seorang menteri. Tidak ada keraguan bahwasanya seseorang tidak disyariatkan untuk menggangap dirinya suci dan tidak pula meminta-minta jabatan. Namun apabila tidak seorang pun yang kapabel dalam sebuah jabatan maka dia harus berada di garis terdepan untuk memangkunya. Sebab, dia adalah Nabi yang selalu menerima wahyu dari Allah, sehingga dia tidak takut dihinggapi rasa sombong dan takabur. Allah Ta’ala berfirman, “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 51). Sifat amanah sangat ditekankan bagi para pemangku jabatan seperti menteri. Sebab, harta kekayaan negara berada di bawah kekuasaannya, dialah yang mendistribusikannya tanpa ada pihak mengawasinya. Sehingga seorang menteri atau bendaharawan harus mempunyai kredibilitas yang tinggi. Karakter pribadi Yusuf inilah yang mengantarkannya kepada kedudukan yang mulia, oleh karena itu sifatnya sebagai seorang yang pandai menjaga amanah disebutkan sebelum sifatnya sebagai orang yang berpengetahuan seperti yang digambarkan ayat di atas.
Dalam firman Allah Ta’ala di atas juga dapat kita pahami bahwa semua kekayaan negeri Mesir sangat cukup untuk penduduknya jika dikelola oleh seorang pemimpin yang amanah dalam tugasnya, mampu memberdayakan potensi yang ada di negeri ini, sanggup mengerahkan seluruh kemampuannya, dan bisa menciptakan inovasi-inovasi yang hebat.
Kisah Yusuf Alaihissalam ini berakhir bahagia karena Allah Ta’ala menganugerahkan kedudukan kepadanya di negeri Mesir. Tidak ada yang terjadi di dunia ini kecuali atas kehendak Allah Ta’ala. Inilah petunjuk Allah kepada Nabi Yusuf Alaihissalam. Peran Yusuf Alaihissalam hanyalah menjalankan tugasnya secara profesional dan proporsional, sementara pahala hanya berasal dari Allah semata bukan dari manusia. Allah Ta’ala berfirman, “Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56)
Hanya kepada Allah kita memohon agar menjadikan kita termasuk di antara orang-orang yang beramal dengan ikhlas karena mengharapkan ridha-Nya. Amiin.
Maret 02, 2012
Mengapa Bayi Menangis Saat Baru Lahir
Semua ibu melahirkan pasti bahagia dan merasa hilang sakitnya saat mendengar bayi yang dilahirkan menangis. Ini juga bisa menjadi salah satu indikator bahwa bayinya telah lahir ke dunia dalam keadaan selamat.
Seperti diketahui oleh semua orang bahwa bayi hanya bisa berkomunikasi dengan orangtuanya hanya melalui tangisan saja, karena itu tangisan bayi yang terdengar saat dilahirkan adalah salah satu bentuk komunikasi dari si bayi.
Selama di dalam kandungan bayi hidup dalam lingkungan yang berair dan terdapat jalan yang menghubungkan jantung dan paru-paru untuk membantu bayi mendapatkan nutrisi dari darah ibu. Ketika bayi baru dilahirkan, bayi mengambil napas untuk pertama kalinya melalui perubahan peredaran darah dan dengan menangis membantu membuka sirkulasi untuk mengirim oksigen melalui paru-paru.
Tangisan pada bayi tersebut membantu membuka paru-parunya agar bisa menghirup oksigen. Dan tepukan pelan di bagian belakang tubuh bayi berguna untuk mendorong bayi agar melakukan pernafasan udara. Selain itu, menangis juga merupakan salah satu cara bayi berkomunikasi.
Seperti dikutip dari Telegraph, ibu yang melahirkan anaknya secara alami atau normal akan menunjukkan lonjakan yang lebih besar dalam aktivitas otaknya ketika mendengar sang bayi menangis dibandingkan dengan ibu yang melahirkan secara caesar.
Dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, para peneliti menggambarkan peneliti menggunakan scan MRI fungsional untuk melihat reaksi dari 12 perempuan setelah mendengar bayinya pertama kali menangis selama 30 detik. Hasil scan menunjukkan bahwa tangisan bayi tersebut mampu mengatur aktivitas di berbagai daerah otak ibu yang salah satunya adalah amigdala, yaitu bagian yang berperan dalam mengatur emosi ibu.
Selain membantu bayi dalam pernapasan dengan menggunakan paru-parunya, menangis saat dilahirkan juga membantu aktivitas dari anggota tubuh bayi itu sendiri. Karena saat menangis secara otomatis bayi tersebut akan bergerak.
Jadi sudah sewajarnya jika bayi yang baru dilahirkan tersebut menangis, karena itu merupakan pertama kalinya si bayi bisa melihat dunia. Justru jika bayi tidak menangis, berarti ada yang tidak beres dengan kondisi bayi tersebut dan dokter harus segera mencari tahu.
7 Fakta Unik Tentang Menangis
Menangis merupakan ekspresi emosi ketika seseorang merasa tersakiti baik mental maupun fisik, atau bahkan saat seseorang merasa sangat bahagia.
Berbagai penelitian seputar menangis membuahkan delapan fakta unik, seperti yang dilansir melalui medicmagic, Senin (9/1).
Rasa Marah Akan Hilang Setelah Menangis
Sekitar 85 persen wanita dan 73 persen pria mengakui jika rasa marah dan sedih akan berkurang setelah menangis. Seperti yang Anda tahu, air mata tidak hanya diproduksi karena adanya perasaan emosional saja. Air mata juga berfungsi untuk membersihkan dan mengurangi dehidrasi pada membran mata yang dapat menyebabkan penglihatan menjadi kabur. Iritasi dan menguap juga bisa memicu naiknya produksi air mata. Namun, meskipun keduanya bisa menyebabkan munculnya air mata, air mata emosional dapat menyebabkan iritasi karena memiliki komposisi kimia yang berbeda.Wanita Lebih Mudah Menangis
Jika wanita dianggap lebih mudah menangis, maka itu mungkin saja benar. Rata-rata, wanita menangis sebanyak 47 kali dalam setahun, sedangkan pria menangis hanya tujuh kali setahun. Namun, ini bukan hanya karena perempuan dianggap lebih emosional dan lemah dibanding laki-laki, melainkan fakta-fakta medis menyebutkan bahwa saluran air mata pria memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan wanita. Sedangkan untuk bayi, durasi normal menangis mereka adalah sekitar 1-3 jam.Orang Lebih Sering Menangis di Malam hari
Tentu saja, kita tidak bisa memprediksi kapan kita akan menangis karena kita tidak bisa memprediksi emosi kita juga. Namun menurut penelitian, kebanyakan orang menangis antara pukul 19.00-22.00.Rata-rata menangis berdurasi 6 Menit
Tak hanya waktu yang menunjukkan kapan orang menangis, tetapi durasinya juga. Meskipun hanya berlangsung sebentar, rata-rata sebagian besar orang menghabiskan waktu 6 menit setiap kali menangis.Menangis itu Sehat
Buang jauh-jauh rasa malu untuk melepaskan air mata. Menurut para ilmuwan, menangis tak hanya sekedar respon tubuh terhadap kesedihan dan frustasi, namun juga menandakan sehat.Menangis bisa Meredakan Stres
Menangis juga cara yang ampuh untuk mengurangi stres emosional. Hal ini tentu saja baik bagi kesehatan, karena stres memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa air mata mengandung hormon prolaktin yang efektif melawan stres.Manangis Sebagai pengobatan yang baik
Menangis juga bisa menurunkan tekanan darah dan denyut jantung, serta membuat respon terhadap pengobatan lebih baik.Menangislah Bila Ingin Menangis, namun jangan di paksakan untuk menangis karena bagaimana pun Tersenyum lebih indah dari pada menangis.
Februari 15, 2012
SUBUH BERJAMAAH (2)
Bagi orang munafik, shalat berjamaah merupakan perkara yang amat berat
untuk dilaksanakan, shalat isya dan subuh berjamaah merupakan perkara
yang lebih berat lagi, karenanya bila ada kemalasan kita untuk shalat
berjamaah harus kita waspadai karena bisa jadi ada virus kemunafikan
menyerang jiwa kita, dalam satu hadits digambarkan dari Abu Ishaq dari
bapaknya :
سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ صَلَّى رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا صَلاَةَ الصُّبْحِ
فَقَالَ أَشَهِدَ فُلاَنٌ الصَّلاَةَ قَالُوا لاَ قَالَ فَفُلاَنٌ قَالُوا
لاَ قَالَ إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلاَتَيْنِ مِنْ أَثْقَلِ الصَّلاَةِ عَلَى
الْمُنَافِقِينَ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا َلأَتَوْهُمَا وَلَوْ
حَبْوًا وَالصَّفُّ اْلأَوَّلُ عَلَى مِثْلِ صَفِّ الْمَلاَئِكَةِ وَلَوْ
تَعْلَمُونَ فَضِيلَتَهُ
لاَبْتَدَرْتُمُوهُ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ
صَلاَتِهِ وَحْدَهُ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ
صَلاَتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Aku mendengar Ubay bin Ka'b berkata; "Suatu
hari Rasulullah saw mengerjakan shalat Subuh, lantas beliau bersabda,
Apakah kamu melihat Fulan ikut shalat berjamaah?' Para sahabat menjawab,
'Tidak'. Rasulullah saw bertanya lagi,' Apakah si Fulan (orang lain
lagi) ikut shalat berjamaah?' Sahabat menjawab, Tidak, Beliau saw lalu
bersabda: 'Dua shalat ini sangat berat bagi orang munafik. Andaikan
mereka mengetahui (pahala) nya, mereka pasti mendatanginya, walau dengan
merangkak. Barisan pertama laksana barisan para malaikat, seandainya
mereka mengetahui keutamaannya mereka pasti bersegera menuju barisan
pertama. Shalatnya seseorang bersama orang lain lebih utama baginya
daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang bersama dua orang lebih
utama daripada shalat bersama satu orang. Kalau mereka bertambah banyak.
Allah Azza wa Jalla lebih mencintainya'." (HR. Nasai). (Ust. Ahmad
Yani, Mubalig dan Penulis 30 Judul Buku. HP 08129021953, Pin 275d0bb3)
Januari 21, 2012
Perangkat Nilai “Mesin” Dakwah
Bekerja di
ladang dakwah telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran kepada kita semua.
Semakin hari semestinya kita menjadi semakin dewasa, karena dimatangkan oleh
peristiwa demi peristiwa, oleh benturan, oleh gesekan, oleh program yang
berkesinambungan.
Ketika dakwah mampu menghimpun para aktivis dalam
sebuah tatanan, sesungguhnya pada dirinya terkandung dua sisi sekaligus.
Pertama sisi potensi yang melimpah ruah, oleh karena dakwah akan dikuatkan oleh
berbagai potensi yang dibawa oleh setiap aktivis. Namun pada sisi lainnya,
terdapat pula peluang terjadinya gesekan tingkat tinggi, karena semua orang
memiliki kemampuan yang setara untuk memimpin dan menempati posisi strategis.
Misalnya saat menentukan kepemimpinan lembaga dakwah,
semua aktivis pada hakikatnya memiliki kemampuan, kapasitas, dan kapabilitas
yang setara. Artinya, semua aktivis memiliki peluang yang sama dalam menempati
posisi tersebut. Demikian pula saat menentukan personal untuk menempati pos-pos
strategis dalam dakwah, baik di dalam lembaga maupun di luar lembaga, semua
aktivis relatif memiliki kapasitas yang setara untuk mendudukinya.
Para pemimpin sering kesulitan saat harus memilih
personal, bukan karena tidak ada potensi, namun justru karena semua aktivis
memiliki potensi. Sementara pos-pos strategis baik internal maupun eksternal
jumlahnya cukup terbatas, yang tentu saja tidak mungkin mampu mewadahi semua
aktivis. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus memilih. Bagi yang tidak
terpilih, bukan berarti “tidak potensial” atau “tidak terpakai”,
sesungguhnyalah semua ingin dipilih, namun pos yang ada sangat terbatas.
Gesekan Adalah Keniscayaan
Setiap titik interaksi kita, selalu menimbulkan
gesekan. Walaupun interaksi itu seluruhnya dalam kebaikan, tidak ada satupun
yang bernilai kejahatan. Namun selalu menimbulkan gesekan. Justru karena saling
bergesekan antara satu komponen dengan komponen lainnya itulah yang menyebabkan
mesin menjadi berfungsi dan bisa menggerakkan roda mobil.
Gesekan itu kadang terasa menyakitkan, justru karena
kita semua menginginkan kebaikan. Sejak awal kita “menjadi mesin” yang
menggerakkan roda perjalanan dakwah, sepenuhnya telah sadar, bahwa apapun akan
kita tempuh untuk mencapai tujuan mulia. Kita menyadari ada bahaya dan hambatan
dari luar, namun amat banyak pula yang berasal dari dalam.
Manajemen apapun tidak akan bisa menghindarkan kita
dari saling bergesekan, karena sebagai mesin kita semua harus bergerak. Satu
komponen berpengaruh dan terhubung dengan komponen lain, saling berinteraksi
secara positif, sehingga bergeraklah roda dakwah. Namun sepanjang perjalanan, mesin
tentu mengalami pemanasan, dan semakin kencang laju mobil dakwah, semakin kuat
pula gesekan antar komponen.
Manajemen yang diperlukan bukanlah menghindarkan
gesekan antar komponen, namun manajemen untuk melicinkannya, agar gesekan yang
terjadi sebagai sebuah keharusan tidak saling menyakiti dan tidak saling
melukai. Semua komponen diperlkukan, walau hanya mur dan baut, walau hanya
karet penghubung, namun seluruhnya menjadi satu kesatuan untuk berfungsinya
mesin dengan baik.
Pada banyak kalangan partai politik, gesekan bisa
sedemikian keras dan kasar. Dampaknya, sebagian pihak terlempar, sebagian
terjatuh, sebagian terbuang, sebagian tersingkirkan, dan sebagian lainnya
berkuasa. Mereka tidak tahan terhadap gesekan, karena memiliki watak ingin menguasai.
Semua komponen ingin mengalahkan dan menjatuhkan yang lainnya, dalam sebuah
rivalitas yang amat keras.
Sepuluh Perangkat Nilai
Bersyukur, dalam dakwah telah disiapkan perangkat yang
memungkinkan semua komponen siap untuk bekerja dengan optimal. Perangkat paling
utama bernama kepahaman. Dengan perangkat ini semua komponen mengerti
berbagai tuntutan perjalanan dakwah sehingga mampu menyiapkan diri dan
menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.
Perangkat kedua adalah keikhlasan. Dengan
landasan keikhlasan, berbagai gesekan tidak sampai menimbulkan korban yang
berjatuhan. Bukankah kita semua bekerja untuk mencari ridha Allah dan bukan
mencari jabatan, kemuliaan, popularitas, kedudukan dan lain sebagainya.
Perangkat ketiga adalah amal yang
berkesinambungan. Bekerja dalam dakwah memerlukan kontinuitas amal, sehingga
menuntut bekerjanya semua komponen mesin dakwah setiap saat. Dakwah tidak akan
berhenti hanya oleh karena ketakutan terkena dampak gesekan.
Perangkat keempat adalah kesungguhan atau jihad.
Semua komponen dituntut untuk melaksanakan kegiatan dan agenda dakwah sepenuh
kesungguhan. Termasuk bersungguh-sungguh menyiapkan jiwa agar memiliki daya
tahah prima di medan dakwah yang penuh tantangan.
Perangkat kelima adalah pengorbanan. Dakwah
tidak akan bisa berjalan tanpa didukung pengorbanan. Semua komponen siap
memberikan pengorbanan terbaik demi tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Termasuk
mengorbankan “gengsi” diri, dalam rangka mencapai tujuan dakwah.
Perangkat keenam adalah ketaatan. Semua pihak
dalam tatanan dakwah harus memiliki ketaatan terhadap rujukan utama dari Allah
dan Rasul-Nya. Dalam tataran praktis, dituntut pula memiliki ketaatan terhadap
manhaj dakwah, serta keputusan lembaga dan para pimpinan, walaupun di antara
isi keputusan tersebut ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.
Perangkat ketujuh adalah keteguhan. Seluruh
aktivis dakwah harus memiliki keteguhan dan ketegaran dalam menapaki jalan
dakwah. Sangat banyak cobaan dan hambatan di sepanjang perjalanan dakwah, hanya
aktivis yang memiliki keteguhan hati, ketegaran jiwa, kekokohan sikap, yang
akan mampu melewatinya.
Perangkat kedelapan adalah kemurnian. Dakwah
menuntut kemurnian hati, pemikiran dan aktivitas. Dakwah menghajatkan kemurnian
orientasi, niat dan tujuan, agar terbebaskan dari penyimpangan tujuan yang
sangat membahayakan.
Perangkat kesembilan adalah persaudaraan. Kita
semua diikat dalam sebuah tali persaudaraan yang kuat. Setiap kita lebih
mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri. Kita bahagia jika mampu
membahagiakan saudaranya. Semua kita menjadi bersedih jika membuat saudaranya
berduka. Kebersamaan adalah kunci kemenangan dakwah.
Perangkat kesepuluh adalah kepercayaan. Ikatan
dalam dakwah bukanlah materi, bukan jabatan, bukan kedudukan duniawi, namun
ikatan visi, ikatan tujuan, ikatan iman, ikatan manhaj. Oleh karena itu sangat
diperlukan saling kepercayaan antara satu bagian dengan bagian lainnya, antara
pimpinan dengan anggota, dan antara sesama aktivis dakwah.
Saya selalu merangkai sepuluh perangkat tersebut dalam
satu kesatuan. Saya selalu melihat kesepuluh perangkat itu adalah mutiara
berkilauan. Sebelum berbicara manajemen praktis, kita terlebih dahulu diikat
oleh sepuluh perangkat nilai, yang menyebabkan kita mampu melewati semua
mihwar, semua tahapan, semua fase dalam dakwah, kendati sangat banyak gesekan
dalam menjalankan kegiatan.
Desember 25, 2011
Mengucapkan Selamat Natal : Haram Apa Tidak?
(Oleh: Ustadz Ahmad Sarwat, Lc)
Haramnya ucapan selamat natal itu memang bukan merupakan ijma atau
kesepakatan final para ulama. Sebagian kalangan mengharamkan dan
sebagian lainnya tidak. Tentu masing-masing dengan hujjah dan
pertimbangannya.
Hal itu terjadi lantaran ditemukannya
dalil-dalil yang saling berbeda, antara dalil yang dipahami sebagai
bentuk larangan, dengan dalil yang bisa dipahami sebagai kebolehan.
Kalau buat situasi negeri kita, memang ada alasan yang bisa dipahami
kalau kecenderungan para ulama mengharamkan ucapan itu, bila dilakukan
oleh kaum muslimin.
1. Kalangan Yang Membolehkan
a. Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi
Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama
adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan
termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahniah saat perayaan agama
lainnya.
Beliau mengatakan :"Sebagai pemeluk Islam, agama kami
tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahniah kepada non muslim
warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka.
Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang
baik).
Sebagaimana firman Allah SWT:
لا يَنْهَاكُمُ
اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ
يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kamu
untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS.
Al-Mumtahanah: 8)
Kebolehan memberikan tahniah ini terutama
bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahniah kepada kami
dalam perayaan hari raya kami.
وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau
balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala
sesuatu.(QS. An-Nisa: 86)
Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara
tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam
ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.
b. Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa
Dr. Mustafa Ahmad Zarqa menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara
tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.
Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah
berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini
tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut
jenazah tersebut.
Sehingga menurut beliau, ucapan tahniah
kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari
besar mereka, juga tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran
keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan
muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan
berbeda agama.
Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan
tahniah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu
seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan
hukum ucapan natalnya.
Namun beliau menyatakan bahwa ucapan
tahniah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara
langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar
di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain
hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.
c. Majelis Fatwa dan Riset Eropa
Majelis Fatwa dan Riset Eropa juga berpendapat yang sama dengan fatwa
Dr. Ahmad Zarqa dalam hal kebolehan mengucapkan tahniah, karena tidak
adanya dalil langsung yang mengharamkannya.
d. Fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said
Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor bidang tafsir dan ulumul
quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahniah ini beliau
agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua, yaitu tahniah yang halal
dan ada yang haram.
Tahniah yang halal adalah tahniah kepada
orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah.
Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul
akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.
Sedangkan tahniah
yang haram adalah tahniah kepada orang kafir yang mengandung unsur
bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan
tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga."
Sedangkan ucapan yang halal seperti, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan
hidayah-Nya kepada Anda."
Bahkan beliau membolehkan memberi
hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar,
gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.
2. Fatwa Yang Mengharamkan
a. Fatwa Haram Ibnul Qayyim
Pendapat anda yang mengharamkan ucapan selamat natal difatwakan oleh
Ibn al-Qayyim Al-Jauziyah. Beliau pernah menyampaikan bila pemberian
ucapan “Selamat Natal” atau mengucapkan “Happy Christmas” kepada
orang-orang kafir hukumnya haram.
Dalam kitabnya Ahkam Ahli
adz-Dzimmah, beliau berkata, “Adapun mengucapkan selamat berkenaan
dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram
menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung
persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan.
b. Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin
Sikap ini juga sama pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih
al-‘Utsaimin sebagaimana dikutip dalam Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403).
Beliau mengatakan bahwa memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan
selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang
kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia
Majelis Ulama Indonesia adalah salah satu diantara rujukan yang sering
disebut-sebut sebagai pelopor haramnya ucapan selamat natal bagi kaum
muslimin. Namun sayangnya, setelah diteliti ulang, ternyata kami tidak
menemukan fatwa tersebut.
Yang ada hanyalah fatwa tentang haramnya natal bersama, bukan haramnya mengucapkan selamat natal.
Malah Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA menyatakan bahwa
MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut
sakramen (ritual) Natal.
"Kalau hanya memberi ucapan selamat
tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang
Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah
orang Islam, " kata Dien yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah itu.
Point Keharaman
Inti masalah dari
perbedaan pendapat ini adalah ketika menjawab pertanyaan : Apakah ucapan
selamat natal itu merupakan bentuk doa dan keridhaan kita atas
penyembahan dan tindakan syirik, atau bukan.
Disinilah para
ulama berbeda pandangan. Sebagian mereka memandang tahniah (greetings)
itu berbeda 180 derajat dengan doa. Hukum mendoakan orang kafir agar
mendapatkan keberkahan dari Allah memang telah disepakati keharamannya.
Sebagian lagi menganggap ucapan tahniah itu tetap merupakan refleksi
dari keridhaan kita atas kekafiran dan syirik yang mereka lakukan.
Lafadz ucapan selamat natal kalau disampaikan dalam bahasa Inggris atau
Arab, tidak mengandung doa. Merry Crismast tidak mengandung doa, tapi
kalau pakai bahasa Indonesia, ungkapan yang biasa kita gunakan memang
mencantumkan lafadz doa yaitu kata selamat. Nah, kata selamat inilah
yang kemudian menjadi biang keladi permasalahan.
Barangkali
pendapat Dr. Abdussattar ada benarnya. Beliau mengatakan haram atau
tidaknya harus dilihat dulu dari lafadz ucapannya. Kalau mengandung doa,
hukumnya haram. Tetai kalau sekedar basa-basi dan penghormatan, tidak
haram.
Tinggal kita harus kreatif merangkai kata, yang pada
intinya tetap terjaga akidah kita dari hal-hal yang batil, namun
mujamalah kita dengan pemeluk agama lain tetap utuh.
Sulit
memang tetapi tidak ada salahnya dicoba. Kita tidak setuju dengan akidah
dan kemusyrikan mereka, tetapi bukan berarti kita harus menghalangi
atau melarang mereka beribadah sesuai dengan agama mereka.
Muslim dan Nasrani di Indonesia
Fatwa bolehnya ucapan tahniah kepada pemeluk nasrani bagi seorang
muslim yang hidup di negeri mayoritas nasrani mungkin sangat bermanfaat
untuk menunjukkan bahwa agama Islam itu toleran terhadap agama lain.
Agama Islam akan semakin dikenal sebagai agama yang terbuka tapi tetap
punya prinsip di negara barat sana. Akidahnya kukuh tapi basa-basi dan
pergaulannya tidak puritan atau fundamentalis.
Selain itu juga
bila seorang muslim yang tinggal di negeri seperti itu mengucilkan diri
tanpa mau berbasa-basi dengan khalayak ramai, juga akan membuat
kehidupan mereka menjadi sangat ekslusif. Pada gilirannya, dakwah Islam
juga akan mengalami hambatan.
Dengan posisi seperti ini, Islam tumbuh subuh di Eropa dan Amerika serta negara barat lainnya.
Namun fatwa seperti itu agak kurang pas kalau diterapkan di negeri kita
Indonesia, dimana umat Islam justru mayoritas. Tetapi ditindas oleh
kalangan minoritas lewat berbagai proyek Kristenisasi yang menipu. Di
antaranya lewat nikah antar agama, ajakan natal bersama, mendirikan
rumah ibadah di lingkungan pemukiman muslim, hingga anjuran untuk saling
mengucapkan selamat hari raya.
Kadang fatwa seperti itu malah
dimanfaatkan untuk merusak aqidah dan merontokkan iman umat Islam negeri
ini yang terkenal kurang kuat aqidahnya. Proyek Kristenisasi yang sudah
berjalan lebih dari 4 abad secara bergantian oleh para penjajah akan
mendapat aliran darah segar.
Apalagi kalangan aktifis
liberalis, tentu akan menari-nari kegirangan kalau mendengar adanya
fatwa yang membolehkan selamat natal. Fatwa ini akan mereka gunakan
sebagai senjata ampuh dalam mengikis habis semangat keislaman.
Sebab lewat fatwa-fatwa seperti ini, perlahan-lahan umat Islam semakin
terseret ikut arus Kristenisasi. Kalau pun fatwa bolehnya mengucapkan
natal ini mau dipakai, harus didampingi dengan fatwa lain, misalnya
haramnya umat Islam menyekolahkan anak di sekolah-sekolah milik yayasan
kristen, termasuk perguruan tingginya, walau pun gratis atau beasiswa.
Juga harus ada fatwa haramnya umat Islam dirawat di rumah sakit,
dipelihara di panti asuhan Kristen, termasuk sumbangan dari yayasan
milik mereka.
Kalau perlu juga harus ada fatwa haramnya umat
Islam membeli buku, majalah, koran, tabloid atau pun bentuk-bentuk
penerbitan lain yang dikelola oleh penerbit-penerbit yang secara tegas
menyatakan kekristenannya.
Tapi tentu akan jadi ironi, lantaran
umat Islam masih belum memiliki semua itu dalam jumlah yang memadai dan
memenuhi standar kualitas yang mumpuni. Umat Islam masih butuh puluhan
bahkan ratusan rumah sakit yang islami, dalam arti memang didedikasikan
buat kemanusiaan, bukan sekedar bisnis cari uang.
Umat Islam
masih rajin menyekolahkan anak di sekolah dan kampus milik agama lain
dengan beragam alasan. Ada yang berasalan masalah kualitas, ada yang
karena murah atau gratis. Bahkan ada yang sekedar mengejar gengsi. Walau
pun mereka tahu bahwa hal itu beresiko tergadainya iman dan aqidah.
Anehnya, justru yang sekolah disana mayoritas malah umat Islam, bukan
umat Kristiani.
Wallahu alam bishshawab, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Langganan:
Postingan (Atom)
