Juli 02, 2012
Mei 16, 2012
Harta =
Kebaikan
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (سورة العاديات:
8)
"Sesungguhnya manusia sangat bakhil karena
kecintaannya terhadap hartanya." (QS. Al-'Aadiyaat: 8)
Ayat ini berbicara tentang sebuah
kenyataan tentang tabiat manusia secara umum terkait dengan hartanya. Yaitu
bahwa manusia sangat cinta terhadap hartanya. Ada pula yang menafsirkan bahwa
kecintaannya terhadap harta, mendorong manusia untuk bersifat bakhil, enggan
mengeluarkannya di jalan Allah.
Yang menarik dari ayat tersebut
adalah bahwa Allah menyebutkan harta dengan ungkapan (الخير) yang
secara harfiah artinya 'kebaikan'. Para ulama tafsir sepakat bahwa yang
dimaksud 'kebaikan' dalam ayat di atas adalah harta. Begitu pula kata yang sama
untuk makna yang sama terdapat dalam Surat Al-Baqarah: 180.
Abu Bakar Al-Jazairi mengatakan
bahwa harta disebut dengan istilah 'kebaikan' berdasarkan urf (kebiasaan), maksudnya sudah dikenal di
tengah bangsa Arab bahwa yang dimaksud (الخير)
adalah harta, juga karena dengan
harta akan dapat dilakukan berbagai kebaikan jika dikeluarkan di jalan Allah.
(Tafsir Muyassar, Al-Jazairi)
Dari sini setidaknya dapat
disimpulkan bahwa sebenarnya harta secara langsung bukanlah 'sumber keburukan',
meskipun kenyataannya banyak manusia yang tergelincir karenanya. Maka, enggan
mencari harta dengan alasan agar tidak tergelincir bukanlah jawaban yang tepat,
bahkan bisa jadi itu menjadi sebab ketergelinciran dari pintu yang lain. Karena,
banyak juga keburukan yang terjadi akibat kekurangan harta.
Namun yang harus diluruskan adalah
sikap kita terhadap harta, bahwa dia bukanlah tujuan dan sumber kebahagiaan itu
sendiri, tapi sarana untuk mendapakan kemuliaan dalam kehidupan dan merelisasikan
kebaikan untuk meraih kebahagiaan. Dengan paradigma seperti ini seseorang akan semangat
berusaha meraih harta dan menyalurkannya dengan cara yang halal. Bahkan dalam surat Al-Araf ayat 32, Allah
mengisyaratkan bahwa tujuan Dia menciptakan harta (perhiasan dunia) pada
hakekatnya adalah untuk orang beriman.
Maka, 'cinta harta' atau 'mengejar
harta' tidak dapat secara mutlak dikatakan buruk. Sebab, selain cinta harta
memang dasarnya adalah fitrah, diapun dapat menjadi pintu kebaikan yang banyak
selama digunakan dengan benar.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam
Al-Adabul Mufrad-nya, dari Amr bin Ash, dia berkata, "Rasulullah saw
memerintahkan aku untuk menemuinya dengan membawa perlengkapan pakaian dan
senjata. Maka aku datang menghadap beliau saat beliau sedang berwudhu, lalu dia
memandangiku dari atas hingga bawah. kemudian berkata, "Wahai Amr, aku
ingin mengutusmu dalam sebuah pasukan, semoga Allah memberimu ghanimah dan aku
ingin engkau mendapatkan harta yang baik." Maka aku berkata, "Sungguh,
aku masuk Islam bukan karena ingin harta. Tapi aku masuk Islam karena Islam dan
aku dapat bersama Rasulullah saw." Maka Rasulullah saw bersabda,
يا عَمْرو ، نِعْمَ المَالُ الصَّالِحُ للمَرءِ الصَالِحِ
"Wahai Amr, sebaik-baik harta, adalah milik orang yang
saleh."
Ucapan Rasulullah saw ini
setidaknya memberikan dua pesan kepada kita; Semangat membina diri agar menjadi
orang saleh dan semangat berusaha agar menjadi orang kaya…
Abdullah bin Mubarak suatu hari menjamu
makan orang-orang miskin, lalu setelah itu dia berkata,
لَوْلاَكَ وَأَصْحَابَكَ مَا اتَّجَرْتُ
"Kalau bukan kalian dan orang-orang seperti kalian, saya
tidak akan berdagang…." (Siyar
A'lam An-Nubala..)
Menjadikan Bulan Rajab dan Sya'ban Sebagai 'Ramadhan'
Saat ini kita sudah memasuki bulan Rajab yang menandakan dua bulan ke depan akan tiba bulan suci Ramadhan 1431 H. Berarti aura bulan Ramadhan itu sudah demikian dekatnya menyapa diri kita. Ini sekedar mengingatkan saja. Sebagai seorang muslim sejati dan merindukan kebaikan, pasti akan selalu memantau saat-saat di mana kebaikan kita akan meningkat dan pahala ketaatan kepada Allah itu memanen pahala yang besar.
Untuk menyegarkan kembali igatan kita tentang hakikat tarhib Ramadhan nanti, mari kita simak sabda Rasulullah junjungan tercinta berikut yang merupakan hadits Tarhib Ramadhan:
اللهم بارك
لنا فى رجب وشعبان وبلغنا رمضان
"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan."(HR. Thabrani dan Baihaqi)
Namun ada sedikit ulasan mengenal hakikat tarhib ini;
1. Keberkahan pada dua bulan, Rajab dan Sya'ban.
Ramadhan adalah penghulu semua-bulan Hijriah sebagaimana hari jum'at adalah penghulu semua hari-hari yang tujuh. Setiap tahun Ramadhan datang menyapa dan setelah itu pergi lagi. Keutamaan begitu banyak dan memang tidak mudah digapai seluruhnya oleh setiap muslim kecuali dengan susah payah dan kebersihan hati serta keikhlasan jiwa. Bagaikan sang pengantin yang bersiap-siap menemui si calon mempelainya dengan segudang rasa, seorang muslim yang merindukan bulan suci ini tidak akan menyia-nyiakan pertemuannya dengan Ramadhan.
Untuk mengoptimalkan saat-saat fenomenal bersama Sang Kekasih itulah, ia sudah bersolek mempersiapkan segala-galanya dengan harapan semua fadhilah yang ada di dalamnya bisa ditangguk secara menyeluruh. Oleh karena itu, Rasulullah mengajak kita, umatnya untuk melakukan warming up di dua bulan yang juga tidak kalah pentingnya, yakni bulan Rajab dan Sya'ban. Dalam hadits di atas beliau SAW memohon kepada Allah seraya mengajak umatnya, untuk diberikan keberkahan yang optimal dengan melakukan pelatihan amal sholeh dalam dua bulan itu.
Nah, bagi kita muslim yang rindu kebaikan, pahala, surga dan dilanjutkan dengan panen pahala pasti sudah memulai berbagai training-training amalan sholeh. Dan itulah nanti yang akan menjadi keberkahan tersendiri bagi kita.
Bentuknya pun bermacam-macam. Seperti misalnya, membayar 'hutang' shaum bagi yang pernah uzur meninggalkan shaumnya pada Ramadhan yang lalu, mempersiapkan tilawah al-Qur'annya bagi yang masih gagap dan kurang lancar. Sudah barang tentu setiap muslim yang merindukan taqorrub di Ramadhan kelak, sedari sekarang sudah mempersiapkan tilawah hariannya. Tahsin, Tafhim dan Tadabburpun tidak luput dari perhatiannya. Ini sangat penting. Mana mungkin kita meneriakkan hadits di atas lantas diri kita kurang memberikan perhatian kepada al-Qur'an yang merupakan amalan utama di bulan mulia itu?!
Amalan sholeh lain yang bisa kita persiapkan adalah shaum itu sendiri. Seperti shaum Ayyamul Bidh / hari-hari putih (3 hari setiap bulan pada tanggal 13, 14 dan 15 H), shaum Senin-Kamis, shaum nabi Daud (puasa selingan / satu hari puasa dan satu hari tidak), lalu berlatih infak, shodaqoh, zakat di bulan Rajab dan Sya'ban.
2. Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.
Inilah harapan besar kita setelah meminta permohonan diberkahi di bulan Rajab dan Sya'ban. Kita meminta dipertemukan dengan Ramadhan untuk melakukan amal shaleh sebanyak-banyak, beribadah dan tentunya lagi pahala yang ghairu mamnun (tanpa putus).
Jadi, sebelum berfastabiqul khoirot di bulan suci nanti, kita sudah 'memulai' suasana Ramadhan terlebih dahulu sebagai semua pelatihan untuk membiasakan diri, warming up, dan berbekal dengan beragam ibadah. Baik itu ibadah mahdoh, ibadah fisik, ibadah maliyyah, ibadah fikriyah dan ibadah ijtima'iyyah. Begitu banyak yang harus didapatkan nanti. Sebagai muslim sejati yang tentu tidak akan menyia-nyiakannya, maka strategi melakukan amal sholeh itu harus diketahui. Menurut fikih awlawiyyat; sebuah amalan itu akan terhitung lebih besar pahalanya daripada amalan yang lainnya apabila ia memenuhi tuntutan situasi dan kondisi. Misalnya, apabila kondisi Ramadhan menuntut seseorang untuk berjihad, maka jihad adalah amalan utamanya, seperti di masa Rasulullah saw dahulu. Jika situasi dan kondisinya menuntut seseorang untuk membantu meringankan beban orang lain yang emergency, maka itulah amalan utamanya. Dan lain sebagainya. Namun, bukan berarti amalan yang sifatnya sosial itu justru mengendurkan perhatian kita kepada amalan yang sifatnya pribadi. Karena sangat mustahil diri kita bisa melakukan amalan sosial apabila kita tidak memiliki kekuatan ruhiyyah yang diperoleh dari dalam diri kita. Dan itu hanya dilakukan dengan cara men-charge ruhiyyah kita.
Insya Allah dengan memahami tarhib Ramadhan versi hadits di atas, kita bisa mengoptimalkan puasa dan melakukan amal sholeh di bulan suci itu. Sehingga amalan shaum di bulan Ramadhan menjadi mukaffirotun lizzunub (penghapus dosa-dosa) kita yang telah lalu.
Tidak usahlah kita seperti para sahabatnya yang memiliki ihtimam (perhatian) yang begitu besar untuk Ramadhan dan ruhiyyah yang tinggi kepada Allah, dengan mempersiapkan diri 6 bulan sebelum Ramadhan tiba dan menangis ketika Ramadhan pergi. Tapi kita cukup mengamalkan hadits Tarhib tersebut di atas untuk mempersiapkan diri.
Mengenai prioritas melakukan amal sholeh di bulan Ramadhan kita bisa baca kembali buku-buku yang mengulas tentang Ramadhan dengan segala fadhilahnya.
Semoga kita bisa memanfaatkan bulan Rajab dan Sya'ban ini sebagai proses pelatihan dan training kebaikan sampai menjelang bulan yang kita nanti-nantikan itu, dengan perasaan bahwa Ramadhan itu sudah dekat dengan kita sehingga menjadikan kita lebih dekat lagi kepada Allah swt.
Kalaupun takdir Allah 'berkata lain' kepada diri kita, Insya Allah ajang pelatihan itu akan menjadi saksi bahwa kita benar-benar mencintai Ramadhan dengan ibadah, meski akhirnya itu akan menjadi pertemuan terakhir kita dengannya.
"Sampaikanlah kami (Ya Allah) ke bulan Ramadhan". Amiin
Wallahu a'lam bish-showab
Senin, 14 Juni 2010 Hidayatullah
Mei 09, 2012
Islamedia - Khalid bin
Walid adalah Panglima yang memporak porandakan pasukan
Muslimin di Perang Uhud. Lalu Allah akhirnya menghendakinya menjadi bagian dari
kaum Muslimin. Kemarin ia adalah orang yang sangat membenci Muhammad serta
membenci agama yang dibawanya, namun hari ini ia adalah orang yang sangat
mencinta Muhammad saw dan agama barunya yakni Islam.
Dialah yang menghancurkan pasukan Musailamah Al-Kadzab
seorang Nabi palsu yang mengaku Nabi setelah wafatnya Rasulullah saw. Dia pula
yang menyelamatkan kaum Muslimin dari kepungan orang-orang kafir saat Perang
Mu’tah. Dia juga yang menghancurkan pasukan Persia. Dia pulalah yang
menghancurkan 240 ribu pasukan Romawi saat perang Yarmuk. Dia adalah orang yang
mukhlish dimana disaat namanya kian menjulang di kawasan jazirah arab karena
kemenangan yang selalu ia raih, ia dengan ikhlas dan penuh ta’zim saat harus
diturunkan jabatannya dari panglima besar hanya menjadi prajurit biasa.
Salman Al-Farisi adalah seorang
walikota di daerah Madain. Ia adalah walikota yang sederhana, yang tak memakan
gajinya sedikitpun, ia bagikan seluruhnya untuk rakyatnya. Dan ia menghidupi
keluarganya dengan menjual keranjang hasil anyamannya sendiri.
Bilal bin Rabah setiap hari ia
dipanggang ditengah padang pasir yang membakar. Dicambuk dan ditindih batu
besar. Tak bergeming hatinya dari aqidahnya. Tak bergerak bibirnya untuk
mengatakan perintah Umayyah majikannya untuk menyebutkan berhala latta dan
uzza.
Mush’ab bin Umair tangan
kanannya putus karena mempertahankan bendera dan melindungi Rasulullah dari
serangan musuh dalam Perang Uhud. Lalu ia mengambil dan mengibarkan bendera
dengan kanan kirinya, lalu musuh kembali menebas tangan kirinya hingga putus.
Mush’ab pun mengibarkan panji dengan mengapit bendera dengan kedua pangkal
pahanya. Lalu musuh menombaknya hingga syahid.
Abu Dzar Al-Ghifari sebelumnya
adalah seorang perampok yang paling ditakuti di Jazirah Arab. Lalu hidayah
Allah datang kepadanya dan dia adalah orang ke enam yang masuk Islam dia pula
orang pertama yang berani secara terang-terangan meneriakan syahadatain di
tengah-tengah orang kafir Quraisy. Padahal waktu itu dakwah masih sirriyah
(sembunyi-sembunyi).
Hmmm..banyak kisah dan peristiwa yang begitu
menakjubkan. Keajaiban keajaiban yang ditunjukan para sahabat sungguh luar
biasa. Mereka yang sebelumnya teramat membenci dakwah ini lalu berubah 180
derajat menjadi pribadi yang begitu mempesona dan mencintai dakwah ini dengan
segenap jiwa. Bahkan mereka rela mengorbankan apapun untuk Allah dan Rasulnya.
Apa yang membuat mereka menjadi sehebat itu?
Syahadah…syahadah yang telah merubah warna mereka.
Kepribadian mereka berubah total setelah lisannya berucap Laa Ilaaha
illallah Muhammad Rasulullah..kalimat itulah yang telah menjadikan mereka
diliputi penuh kemuliaan. Kisah kisah heroik dalam mempertahankan aqidah,
mereka suguhkan sebagai konsekwensi setelah berikrar dengan mengucap
syahadatain.
Mereka merevolusi diri mereka dengan penuh keikhlasan,
tanpa beban sedikitpun. Malahan, mereka melakukannya dengan penuh cinta. Mereka
rela berkorban meski harta tak bersisa, mereka siap berkorban meski harus
bermusuhan dengan ibu dan keluarga tercinta, bahkan hingga nyawa meregang
dengan jasadnya, siap mereka pertaruhkan untuk Allah dan Rasul-Nya.
Sungguh..mereka adalah sebaik baik generasi.
Pengorbanan dan perjuangan mereka tak akan mampu ditandingi oleh siapapun.
Bagi ummat sekarang ini, syahadatain seperti tak
bermakna. Ia hanya terucap dibibir tanpa membekas dihati dan tanpa terlihat
pada amal. Sedangkan para sahabat mengerti benar, bahwa syahadatain yang mereka
ucapkan bukanlah sebuah kalimat biasa tanpa makna. Melainkan sebuah kalimat
yang teramat berat dan penuh resiko serta penuh konsekwensi yang akan mereka
hadapi. Namun mereka yakin hanya dengan syahadatain lah mereka bisa bertemu
Tuhannya secara langsung di syurga kelak. Hanya dengan syahadah lah mereka bisa
bermanja manja kelak ditaman taman syurga yang hijau. Maka untuk meraih
kenikmatan di akhirat itu, mereka tak peduli sesakit apapun perjuangan mereka
di dunia. Karena pada sesungguhnya mereka sedang membangun rumah di syurga-Nya.
Mereka sadar dengan sepenuhnya bahwa syahadah yang
mereka ucapkan memiliki makna begitu dalam. Mereka mengerti dan memahami
keputusan mengucapkan syahadah bukan hanya sekedar pernyataan melainkan sebuah
janji dan sumpah yang harus selalu mereka pegang dan tak boleh melepasnya meski
sebentar saja.
Katakanlah (Muhammad) : “Wahai Ahli Kitab! marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami seorang Muslim”. (Ali Imron : 64)
Inilah pintu gerbang untuk memasuki bangunan Islam. Siapa saja yang ingin memasuki agama Islam yang mulia ini ia harus menyatakan keislamannya dengan mengucap syahadatain. Serta ia harus mengetahui apa konsekwensi yang ada dibelakangnya.
Kalimat ini bukan kalimat biasa, ia syarat makna dan begitu berat. Secara substansi syahadah adalah pernyataan iman kepada Allah dan Rasul-Nya, sekaligus pengukuhan Allah sebagai satu satunya Tuhan dan Rasulullah satu satunya teladan. Maka konsekwensi dari syahadah adalah menolak segala jenis tuhan tuhan yang lain.
Para sahabat mengeti benar kalimat syahadah ini. Karenanya, disiksa bagaimanapun tak akan menggoyahkan aqidah mereka.
2. Al-Wa’du (Janji)
Dan (ingatlah) ketika Tuhan mu mengeluarkanmu dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah aku ini Tuhan mu?” mereka nebjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami) kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu), agar dihari kiamat kamu tidak mengatan, “sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (Al-A’raf : 172)
Selain pernyataan, syahadah juga berarti perjanjian; perjanjian yang kuat. Berjanji hanya untuk meng-Esakan Allah. Berjanji untuk tidak menyembah dan meminta pertolongan selain kepada-Nya. Berjanji setia untuk senantiasa mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Serta menjauhi semua larangan-Nya dan Rasul-Nya.
Maka dari makna ini, konsekwensinya adalah, seorang muslim harus beramal, beribadah sesuai perintah-Nya. Mengikuti aturan hidup yang termaktub dalam kitab suci-Nya. Melanggar perjanjian ini berarti ia termasuk golongan munafik.
3. Al-Qosam (Sumpah)
Katakanlah (Muhammad): “Sesungguhnya sholatku, iabadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” (Al-An’am : 162-163)
Syahadah juga bermakna sumpah. Tentu sumpah ini lebih berat maknanya dari pernyataan dan janji. Seorang muslim secara sadar akan terikat oleh sumpah ini. Sumpah hanya untuk mentauhidkan Allah saja. Sumpah untuk menyerahkan segala hidupnya, matinya dan ibadahnya hanya untuk Allah saja. Sumpah untuk tetap mempertahankan aqidah bagaimanapun penyiksaan yang akan dihadapi. Sumpah untuk tetap istiqomah dan memperjuangkan agama ini dengan pengorbanan sebesar besarnya.
Jika seorang muslim mampu menjalankan syahadatain
dengan sebenar-benarnya maka akan melahirkan sifat berani (syaja’ah),
tenang (Ithmi’nan) dan Optimis (Tafa’ul). Ketiga sifat inilah
yang diconrohkan para sahabat. Setelah bersyahadat, tak ada lagi rasa takut
dalam jiwanya kecuali pada Allah saja. Tak ada kegelisahan dalam menghadapi mihnah
(cobaan) karena mereka yakin Allah bersama mereka. Tak ada rasa pesimis dalam
mencapai ridho Allah.
Para sahabat telah menunjukan dengan benar sebagai
seorang muslim yang kaffah. Yang tak bergeming sedikitpun dari keyakinannya,
manakala siksaan mendarat ditubuh mereka, manakala ditawarkan kedudukan, harta
serta wanita cantik untuk mereka agar mereka meninggalkan keyakinannya. Meski
tangan harus putus, meski tubuh harus digergaji sekalipun, meski tombak harus
memecah kepala, meski badan harus terbelah dengan hunusan pedang, meski jantung
harus dikeluarkan,,tak akan menggoyahkan aqidah mereka. Yang mereka
yakini kemuliaan hanyalah disisi Allah saja.
Ummat hari ini begitu memperihatinkan..dengan
sebungkus mie instan saja aqidah dapat digadaikan. Ummat ini tidak bangga
dengan agamanya sendiri. Banyak yang memajang foto di facebook bersama dengan
seorang wanita/pria yang bukan muhrimnya. Banyak yang asal bergandengan tangan
bukan dengan muhrimnya, mereka mempertontonkan akhlak yang jauh dari akhlak
seorang muslim.
Ummat ini tidak tahu dan tidak mau tau apa makna
sebenarnya dari sebuah syahadah. Mereka harus diluruskan. Di da’wahi oleh para
da’i yang telah memahami makna syahadah ini. Ummat ini harus dibimbing agar
tidak semakin terpelosok kedalam. Mereka harus diarahkan agar senantiasa
mengkaji kedalaman ilmu agama ini. Mereka harus diarahkan agar sering membaca
literatur sejarah agama serta pelaku pengibar bendera agama ini. Mereka harus
dikenalkan kembali siapa tuhannya, siapa nabinya, apa kitab sucinya, siapa
saudara-saudaranya. Mereka harus diberitahu siapa yang harus diteladani, di
idolakan. Mereka harus tahu pengorbanan Rasulullah saw dan para sahabatnya yang
menakjubkan.
Maka itu semua menjadi tugas kita ikhwahfillah…
Semoga Allah mempertemukan kita di syurga
kelak..bersama Rasulullah, para sahabat dan para pejuang Islam lainnya…aminn..
Seorang Muslim senantiasa mengharapkan Ridho Allah
dalam setiap sepak terjang aktifitasnya. Sebab ia tahu bahwa hanya
dengan memperoleh Ridho Allah sajalah hidupnya menjadi lurus, terarah
dan benar. Seorang Muslim yang mengejar Ridho Allah berarti menjadi
seorang beriman yang ikhlas. Orang yang ikhlas dalam ber’amal merupakan
orang yang tidak bakal sanggup diganggu apalagi dikalahkan oleh syetan.
Allah menjamin hal ini berdasarkan firmanNya dimana dedengkot syetan
saja, yakni Iblis, mengakui ketidak-berdayaannya menyesatkan hamba-hamba Allah yang mukhlis.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ
وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau
telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan
menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di
antara mereka". (QS Al-Hijr ayat 39-40)
Orang-orang yang telah menjadikan Ridho Allah
semata sebagai tujuan hidupnya tidak mungkin dapat disimpangkan dari
jalan yang benar. Mereka tidak mempan di-iming-imingi dengan kenikmatan
apapun di dunia ini. Sebab mereka sangat yakin bahwa kenikmatan jannah
(surga) yang Allah janjikan bagi mereka tidak bisa disetarakan apalagi
dikalahkan oleh kenikmatan duniawi bagaimanapun bentuknya. Harta, tahta
maupun wanita tidak mungkin mereka dahulukan daripada kenikmatan ukhrawi
surgawi yang Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sendiri gambarkan sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّه
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ
وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
Allah berfirman: “Aku telah sediakan untuk hamab-hambaKu yang sholeh
apa-apa yang tidak pernah mata memandangnya, dan tidak pernah telinga
mendengarnya dan tidak pernah terbersit di dalam hati manusia.” ( HR
Bukhary)
Hamba-hamba Allah yang mukhlis kebal terhadap
berbagai ancaman manusia berupa siksa dan penderitaan duniawi apapun,
karena bagi mereka tidak ada yang lebih menakutkan daripada ancaman
Allah berupa siksa dan penderitaan hakiki di dalam neraka akhirat kelak.
Mereka memiliki sikap seperti sikap para tukang sihir Fir’aun yang
semula loyal kepada penguasa zalim tersebut, namun setelah menyaksikan
betapa unggulnya kekuatan Allah lewat performa NabiNya Musa, maka akhirnya mereka bertaubat. Mereka selanjutnya meninggalkan (baca: baro’ alias berlepas diri dari) Fir’aun dan tidak menghiraukan ancamannya bagaimanapun bentuknya:
قَالَ آَمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آَذَنَ لَكُمْ
إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ
تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ
وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى
رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا
خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ
”Fir`aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman
kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia
benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti
pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku
akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan
menyalibmu semuanya". Mereka berkata: "Tidak ada kemudharatan (bagi
kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya
kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami,
karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman". (QS
Asy-Syuara ayat 49-51)
Orang-orang yang sibuk menggapai Ridho Allah semata
dalam hidupnya sangat meyakini bahwa hanya Allah sajalah yang patut di
jadikan prioritas utama kecintaan, kepatuhan dan rasa takut. Mereka
berusaha untuk selalu mendahulukan Allah dalam setiap gerak-gerik
hidupnya. Mereka sangat benci menyekutukan atau menduakan apalagi
men-tigakan Allah, Rabbul’aalamiin. Sebab mereka sangat yakin
bahwa Allah sajalah Raja di langit dan Raja di bumi. Sehingga dalam
menyerahkan kecintaan, kepatuhan atau rasa takut kepada selain Allah
mereka tidak akan pernah mau menyetarakan apalagi mendahulukan selain
Allah. Sikap mereka kepada para pemimpin dan pembesar dunia adalah sikap
yang sangat proporsional. Mereka hanya mau mentaati pemimpin yang
senantiasa mengajak kepada meraih Ridho Allah juga. Namun bila pemimpin
yang ada malah mengalihkan mereka dari mengejar Ridho Allah, maka bagi
orang-orang mukhlis Ridho Allah jauh lebih utama didahulukan.
Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa jalan
hidup yang sepatutnya dilalui hanyalah jalan hidup yang mendatangkan
keridhoan Allah. Sedangkan Allah telah menegaskan bahwa hanya Islam-lah
jalan hidup atau dien yang diridhaiNya.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
”Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran ayat 19)
Sedemikian yakinnya kaum mukhlisin akan
kebenaran pernyataan Allah di atas, sehingga di dalam hati mereka tidak
tersisa lagi cadangan kepercayaan akan jalan hidup lainnya. Sebab semua
jalan hidup lainnya bukan dari Allah yang mereka senantiasa kejar
keridhaanNya. Jalan hidup lainnya hanyalah jalan hidup palsu bikinan
manusia yang seringkali dihiasi dengan nafsu dan sikap zalim serta
keterbatasan ilmu alias jahil atau bodoh. Orang-orang mukhlis
tidak lagi menyisakan di dalam diri mereka kepercayaan akan
Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme, Kapitalisme, Sosialisme,
Komunsime, Humanisme, Hedonisme apalagi Demokrasi. Semua jalan hidup itu
bagi mereka tidak menjamin akan mendatangkan keridhoan Alllah. Padahal
mereka sudah sangat yakin bahwa hidup tanpa keridhoan Allah adalah
kehidupan yang merugi dan penuh ke-sia-siaan.
Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan
satu-satunya teladan dan prototype sempurna yang wajib diteladani
segenap sepakterjang perjuangannya. Bilamana menempuh jalan uswah
tersebut berakibat kepada munculnya kehidupan yang penuh kesulitan dan
jalan mendaki, maka mereka dengan rela hati akan menempuhnya. Bila
karena meneladani Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam
mereka harus mengalami pengucilan dan stigma
negatif dari kebanyakan manusia, maka mereka dengan sabar terus
menempuhnya. Tidak sedikitpun rayuan dan iming-iming maupun ancaman dan black campaign fihak musuh dapat menyimpangkan mereka dari jalan hidup teladan utama ini. Karena kaum mukhlisin sangat yakin bahwa menegakkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya jalan untuk meraih keridhoan Allah.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah. (QS Al-Ahzab ayat 21)
Sedangkan meninggalkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam hanya
akan mengantarkan mereka kepada kesenangan sementara dunia namun
mengakibatkan penderitaan abadi dan hakiki di dalam kehidupan akhirat
kelak nanti. Apalah artinya ”seolah berjaya” sebentar di dunia untuk
kemudian merugi dan menyesal selamanya di akhirat. Lebih baik bersabar
sebentar di dunia untuk menikmati kesenangan dan kebahagiaan sejati lagi
abadi di kampung halaman jannatun-na’iim.
Maka para pemburu Ridho Allah setiap hari senantiasa memperbaharui komitmen mereka dengan mengikrarkan di dalam dirinya kalimat “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Nabi”. Pengulangan
ikrar harian ini menjadi sangat penting sebab ia merupakan salah satu
jalan untuk memastikan bahwa Ridho Allah menyertai mereka ketika sudah
berjumpa Allah di hari Kiamat atau hari Berbangkit. Demikianlah anjuran
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummatnya sebagaimana diterangkan di bawah ini:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ
يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ
دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا
كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang
Muslim yang membaca di pagi hari dan di sore hari sebanyak tiga kali
“Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup)
dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari
Kiamat.” (HR Ahmad)
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ
حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang
Muslim atau seorang manusia atau hamba yang membaca di sore hari dan di
pagi hari: “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien
(jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti
meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah)
April 26, 2012
يـامَن له تعنو الوجوهُ وتخــشعُ * * * ولأمرهِ كل الخــلائق تخضعُ
Wahai yang kepadanya lah wajah-wajah menghadap khusyuk .. dan pada perintahnya segenap makhluk tunduk
أعنو إليك بجبهة لم أحنِها يـوما * * * إلالوجـهـك ساجـدا أتــضرع
Aku menghadapkan kepada-Mu dahi yang tak pernah aku tundukkan selain dihadapan-Mu, dalam sujudku penuh permohonan
وإلـيـك أبـسط كــف ذلاً لـم تـكن * * * يـوماً لغيرسؤال فـضلك تـُرفعُ
Aku tengadahkan pada-Mu telapak tanganku yang tak pernah sekalipun kuangkat selain memohon anugerah-Mu
أنا من علمتَ المذنب العاصي الذي * * * عظُمت خـطاياه فجاءك يهرع
Hamba yang Engkau tahu sebagai pemaksiat yang berlimpah dosa, kini bergegas mendatangi-Mu
كم من ساعة فرطت فيها مسرفا * * * وأضـعـتـهـا في زائـلٍ لا يـنــفع
Betapa banyak waktu-waktuku terbuang begitu saja, aku habiskan dalam kesia-siaan tanpa makna
كـم بــــتُ لــيــلي كــله مـُـثـاقــلاً * * * وذووالـتـقـى حـولي قـيـامٌ رُكـع
Betapa sering aku tertidur dengan begitu lelap, sementara orang-orang bertakwa disekitarku terbangun untuk qiyam dan rukuk
كم زيـنت لي الـنفسُ سـوء فـعالها * * * فـأطـعـتـهـا ضـعـفاً وبـئس الـطّـيـعُ
Betapa sering hawa nafsuku menghias hal-hal buruk agar ku tertarik, lalu aku ikuti sepenuh ketaatan
كم وسوس الخـنـاس فـي صـدري فـلم * * * يـجـدالذي يـعـلوقـفـاه ويـصـفـعُ
Betapa sering syetan membisiki dadaku dan tidak mendapati seorangpun mencengkeram lehernya dan menamparnya
كم أقـرأ الآيـات لـونـزلت عـلى * * * شُـم الجـبـال رأيــتـها تـتـصـدعُ
Betapa sering aku membaca Ayat Al-Quran tanpa kesan, sementara jika ayat2 itu diturunkan pada gunung akan terguncang hebat
مـالي أرددوعــدها ووعــيـدها * * * مـارقّ قـلبي أوجـرى لي مـدمعُ
Ada apa denganku berulang2 membaca ayat2 janji dan ancaman, namun hatiku tak menjadi lembut dan tak juga mengalir air mata ini
كـم مـن نـفـوسٍ بالهـدى ذكـرتـهـا * * * فـمـضـت كـمايـمـضي الـجـوادُ المـسـرعُ
Betapa banyak jiwa aku berikan nasehat atas hidayah Allah, namun segera berlalu secepat kuda melesat
يـاحـسـرتـا أعــظُ الأنـام فـليـتـني * * * نـفـسي وعـظـتُ فـوعـظُ نــفـسـي أنــفــعُ
Sungguh meruginya diriku, menasehati orang-orang, seandainya diriku sendiri yang aku nasehati tentu lebih bermanfaat*dikutip dan diterjemahkan dari Kitab " Ibtihalat wa da'awat" oleh Syeikh Yusuf Qardhawi - Darul Qolam Damaskus
Langganan:
Postingan (Atom)