Februari 15, 2012
Januari 21, 2012
Perangkat Nilai “Mesin” Dakwah
Bekerja di
ladang dakwah telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran kepada kita semua.
Semakin hari semestinya kita menjadi semakin dewasa, karena dimatangkan oleh
peristiwa demi peristiwa, oleh benturan, oleh gesekan, oleh program yang
berkesinambungan.
Ketika dakwah mampu menghimpun para aktivis dalam
sebuah tatanan, sesungguhnya pada dirinya terkandung dua sisi sekaligus.
Pertama sisi potensi yang melimpah ruah, oleh karena dakwah akan dikuatkan oleh
berbagai potensi yang dibawa oleh setiap aktivis. Namun pada sisi lainnya,
terdapat pula peluang terjadinya gesekan tingkat tinggi, karena semua orang
memiliki kemampuan yang setara untuk memimpin dan menempati posisi strategis.
Misalnya saat menentukan kepemimpinan lembaga dakwah,
semua aktivis pada hakikatnya memiliki kemampuan, kapasitas, dan kapabilitas
yang setara. Artinya, semua aktivis memiliki peluang yang sama dalam menempati
posisi tersebut. Demikian pula saat menentukan personal untuk menempati pos-pos
strategis dalam dakwah, baik di dalam lembaga maupun di luar lembaga, semua
aktivis relatif memiliki kapasitas yang setara untuk mendudukinya.
Para pemimpin sering kesulitan saat harus memilih
personal, bukan karena tidak ada potensi, namun justru karena semua aktivis
memiliki potensi. Sementara pos-pos strategis baik internal maupun eksternal
jumlahnya cukup terbatas, yang tentu saja tidak mungkin mampu mewadahi semua
aktivis. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus memilih. Bagi yang tidak
terpilih, bukan berarti “tidak potensial” atau “tidak terpakai”,
sesungguhnyalah semua ingin dipilih, namun pos yang ada sangat terbatas.
Gesekan Adalah Keniscayaan
Setiap titik interaksi kita, selalu menimbulkan
gesekan. Walaupun interaksi itu seluruhnya dalam kebaikan, tidak ada satupun
yang bernilai kejahatan. Namun selalu menimbulkan gesekan. Justru karena saling
bergesekan antara satu komponen dengan komponen lainnya itulah yang menyebabkan
mesin menjadi berfungsi dan bisa menggerakkan roda mobil.
Gesekan itu kadang terasa menyakitkan, justru karena
kita semua menginginkan kebaikan. Sejak awal kita “menjadi mesin” yang
menggerakkan roda perjalanan dakwah, sepenuhnya telah sadar, bahwa apapun akan
kita tempuh untuk mencapai tujuan mulia. Kita menyadari ada bahaya dan hambatan
dari luar, namun amat banyak pula yang berasal dari dalam.
Manajemen apapun tidak akan bisa menghindarkan kita
dari saling bergesekan, karena sebagai mesin kita semua harus bergerak. Satu
komponen berpengaruh dan terhubung dengan komponen lain, saling berinteraksi
secara positif, sehingga bergeraklah roda dakwah. Namun sepanjang perjalanan, mesin
tentu mengalami pemanasan, dan semakin kencang laju mobil dakwah, semakin kuat
pula gesekan antar komponen.
Manajemen yang diperlukan bukanlah menghindarkan
gesekan antar komponen, namun manajemen untuk melicinkannya, agar gesekan yang
terjadi sebagai sebuah keharusan tidak saling menyakiti dan tidak saling
melukai. Semua komponen diperlkukan, walau hanya mur dan baut, walau hanya
karet penghubung, namun seluruhnya menjadi satu kesatuan untuk berfungsinya
mesin dengan baik.
Pada banyak kalangan partai politik, gesekan bisa
sedemikian keras dan kasar. Dampaknya, sebagian pihak terlempar, sebagian
terjatuh, sebagian terbuang, sebagian tersingkirkan, dan sebagian lainnya
berkuasa. Mereka tidak tahan terhadap gesekan, karena memiliki watak ingin menguasai.
Semua komponen ingin mengalahkan dan menjatuhkan yang lainnya, dalam sebuah
rivalitas yang amat keras.
Sepuluh Perangkat Nilai
Bersyukur, dalam dakwah telah disiapkan perangkat yang
memungkinkan semua komponen siap untuk bekerja dengan optimal. Perangkat paling
utama bernama kepahaman. Dengan perangkat ini semua komponen mengerti
berbagai tuntutan perjalanan dakwah sehingga mampu menyiapkan diri dan
menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.
Perangkat kedua adalah keikhlasan. Dengan
landasan keikhlasan, berbagai gesekan tidak sampai menimbulkan korban yang
berjatuhan. Bukankah kita semua bekerja untuk mencari ridha Allah dan bukan
mencari jabatan, kemuliaan, popularitas, kedudukan dan lain sebagainya.
Perangkat ketiga adalah amal yang
berkesinambungan. Bekerja dalam dakwah memerlukan kontinuitas amal, sehingga
menuntut bekerjanya semua komponen mesin dakwah setiap saat. Dakwah tidak akan
berhenti hanya oleh karena ketakutan terkena dampak gesekan.
Perangkat keempat adalah kesungguhan atau jihad.
Semua komponen dituntut untuk melaksanakan kegiatan dan agenda dakwah sepenuh
kesungguhan. Termasuk bersungguh-sungguh menyiapkan jiwa agar memiliki daya
tahah prima di medan dakwah yang penuh tantangan.
Perangkat kelima adalah pengorbanan. Dakwah
tidak akan bisa berjalan tanpa didukung pengorbanan. Semua komponen siap
memberikan pengorbanan terbaik demi tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Termasuk
mengorbankan “gengsi” diri, dalam rangka mencapai tujuan dakwah.
Perangkat keenam adalah ketaatan. Semua pihak
dalam tatanan dakwah harus memiliki ketaatan terhadap rujukan utama dari Allah
dan Rasul-Nya. Dalam tataran praktis, dituntut pula memiliki ketaatan terhadap
manhaj dakwah, serta keputusan lembaga dan para pimpinan, walaupun di antara
isi keputusan tersebut ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.
Perangkat ketujuh adalah keteguhan. Seluruh
aktivis dakwah harus memiliki keteguhan dan ketegaran dalam menapaki jalan
dakwah. Sangat banyak cobaan dan hambatan di sepanjang perjalanan dakwah, hanya
aktivis yang memiliki keteguhan hati, ketegaran jiwa, kekokohan sikap, yang
akan mampu melewatinya.
Perangkat kedelapan adalah kemurnian. Dakwah
menuntut kemurnian hati, pemikiran dan aktivitas. Dakwah menghajatkan kemurnian
orientasi, niat dan tujuan, agar terbebaskan dari penyimpangan tujuan yang
sangat membahayakan.
Perangkat kesembilan adalah persaudaraan. Kita
semua diikat dalam sebuah tali persaudaraan yang kuat. Setiap kita lebih
mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri. Kita bahagia jika mampu
membahagiakan saudaranya. Semua kita menjadi bersedih jika membuat saudaranya
berduka. Kebersamaan adalah kunci kemenangan dakwah.
Perangkat kesepuluh adalah kepercayaan. Ikatan
dalam dakwah bukanlah materi, bukan jabatan, bukan kedudukan duniawi, namun
ikatan visi, ikatan tujuan, ikatan iman, ikatan manhaj. Oleh karena itu sangat
diperlukan saling kepercayaan antara satu bagian dengan bagian lainnya, antara
pimpinan dengan anggota, dan antara sesama aktivis dakwah.
Saya selalu merangkai sepuluh perangkat tersebut dalam
satu kesatuan. Saya selalu melihat kesepuluh perangkat itu adalah mutiara
berkilauan. Sebelum berbicara manajemen praktis, kita terlebih dahulu diikat
oleh sepuluh perangkat nilai, yang menyebabkan kita mampu melewati semua
mihwar, semua tahapan, semua fase dalam dakwah, kendati sangat banyak gesekan
dalam menjalankan kegiatan.
Desember 25, 2011
Mengucapkan Selamat Natal : Haram Apa Tidak?
(Oleh: Ustadz Ahmad Sarwat, Lc)
Haramnya ucapan selamat natal itu memang bukan merupakan ijma atau
kesepakatan final para ulama. Sebagian kalangan mengharamkan dan
sebagian lainnya tidak. Tentu masing-masing dengan hujjah dan
pertimbangannya.
Hal itu terjadi lantaran ditemukannya
dalil-dalil yang saling berbeda, antara dalil yang dipahami sebagai
bentuk larangan, dengan dalil yang bisa dipahami sebagai kebolehan.
Kalau buat situasi negeri kita, memang ada alasan yang bisa dipahami
kalau kecenderungan para ulama mengharamkan ucapan itu, bila dilakukan
oleh kaum muslimin.
1. Kalangan Yang Membolehkan
a. Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi
Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama
adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan
termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahniah saat perayaan agama
lainnya.
Beliau mengatakan :"Sebagai pemeluk Islam, agama kami
tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahniah kepada non muslim
warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka.
Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang
baik).
Sebagaimana firman Allah SWT:
لا يَنْهَاكُمُ
اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ
يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kamu
untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS.
Al-Mumtahanah: 8)
Kebolehan memberikan tahniah ini terutama
bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahniah kepada kami
dalam perayaan hari raya kami.
وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau
balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala
sesuatu.(QS. An-Nisa: 86)
Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara
tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam
ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.
b. Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa
Dr. Mustafa Ahmad Zarqa menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara
tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.
Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah
berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini
tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut
jenazah tersebut.
Sehingga menurut beliau, ucapan tahniah
kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari
besar mereka, juga tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran
keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan
muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan
berbeda agama.
Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan
tahniah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu
seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan
hukum ucapan natalnya.
Namun beliau menyatakan bahwa ucapan
tahniah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara
langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar
di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain
hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.
c. Majelis Fatwa dan Riset Eropa
Majelis Fatwa dan Riset Eropa juga berpendapat yang sama dengan fatwa
Dr. Ahmad Zarqa dalam hal kebolehan mengucapkan tahniah, karena tidak
adanya dalil langsung yang mengharamkannya.
d. Fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said
Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor bidang tafsir dan ulumul
quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahniah ini beliau
agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua, yaitu tahniah yang halal
dan ada yang haram.
Tahniah yang halal adalah tahniah kepada
orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah.
Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul
akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.
Sedangkan tahniah
yang haram adalah tahniah kepada orang kafir yang mengandung unsur
bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan
tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga."
Sedangkan ucapan yang halal seperti, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan
hidayah-Nya kepada Anda."
Bahkan beliau membolehkan memberi
hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar,
gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.
2. Fatwa Yang Mengharamkan
a. Fatwa Haram Ibnul Qayyim
Pendapat anda yang mengharamkan ucapan selamat natal difatwakan oleh
Ibn al-Qayyim Al-Jauziyah. Beliau pernah menyampaikan bila pemberian
ucapan “Selamat Natal” atau mengucapkan “Happy Christmas” kepada
orang-orang kafir hukumnya haram.
Dalam kitabnya Ahkam Ahli
adz-Dzimmah, beliau berkata, “Adapun mengucapkan selamat berkenaan
dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram
menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung
persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan.
b. Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin
Sikap ini juga sama pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih
al-‘Utsaimin sebagaimana dikutip dalam Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403).
Beliau mengatakan bahwa memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan
selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang
kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia
Majelis Ulama Indonesia adalah salah satu diantara rujukan yang sering
disebut-sebut sebagai pelopor haramnya ucapan selamat natal bagi kaum
muslimin. Namun sayangnya, setelah diteliti ulang, ternyata kami tidak
menemukan fatwa tersebut.
Yang ada hanyalah fatwa tentang haramnya natal bersama, bukan haramnya mengucapkan selamat natal.
Malah Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA menyatakan bahwa
MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut
sakramen (ritual) Natal.
"Kalau hanya memberi ucapan selamat
tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang
Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah
orang Islam, " kata Dien yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah itu.
Point Keharaman
Inti masalah dari
perbedaan pendapat ini adalah ketika menjawab pertanyaan : Apakah ucapan
selamat natal itu merupakan bentuk doa dan keridhaan kita atas
penyembahan dan tindakan syirik, atau bukan.
Disinilah para
ulama berbeda pandangan. Sebagian mereka memandang tahniah (greetings)
itu berbeda 180 derajat dengan doa. Hukum mendoakan orang kafir agar
mendapatkan keberkahan dari Allah memang telah disepakati keharamannya.
Sebagian lagi menganggap ucapan tahniah itu tetap merupakan refleksi
dari keridhaan kita atas kekafiran dan syirik yang mereka lakukan.
Lafadz ucapan selamat natal kalau disampaikan dalam bahasa Inggris atau
Arab, tidak mengandung doa. Merry Crismast tidak mengandung doa, tapi
kalau pakai bahasa Indonesia, ungkapan yang biasa kita gunakan memang
mencantumkan lafadz doa yaitu kata selamat. Nah, kata selamat inilah
yang kemudian menjadi biang keladi permasalahan.
Barangkali
pendapat Dr. Abdussattar ada benarnya. Beliau mengatakan haram atau
tidaknya harus dilihat dulu dari lafadz ucapannya. Kalau mengandung doa,
hukumnya haram. Tetai kalau sekedar basa-basi dan penghormatan, tidak
haram.
Tinggal kita harus kreatif merangkai kata, yang pada
intinya tetap terjaga akidah kita dari hal-hal yang batil, namun
mujamalah kita dengan pemeluk agama lain tetap utuh.
Sulit
memang tetapi tidak ada salahnya dicoba. Kita tidak setuju dengan akidah
dan kemusyrikan mereka, tetapi bukan berarti kita harus menghalangi
atau melarang mereka beribadah sesuai dengan agama mereka.
Muslim dan Nasrani di Indonesia
Fatwa bolehnya ucapan tahniah kepada pemeluk nasrani bagi seorang
muslim yang hidup di negeri mayoritas nasrani mungkin sangat bermanfaat
untuk menunjukkan bahwa agama Islam itu toleran terhadap agama lain.
Agama Islam akan semakin dikenal sebagai agama yang terbuka tapi tetap
punya prinsip di negara barat sana. Akidahnya kukuh tapi basa-basi dan
pergaulannya tidak puritan atau fundamentalis.
Selain itu juga
bila seorang muslim yang tinggal di negeri seperti itu mengucilkan diri
tanpa mau berbasa-basi dengan khalayak ramai, juga akan membuat
kehidupan mereka menjadi sangat ekslusif. Pada gilirannya, dakwah Islam
juga akan mengalami hambatan.
Dengan posisi seperti ini, Islam tumbuh subuh di Eropa dan Amerika serta negara barat lainnya.
Namun fatwa seperti itu agak kurang pas kalau diterapkan di negeri kita
Indonesia, dimana umat Islam justru mayoritas. Tetapi ditindas oleh
kalangan minoritas lewat berbagai proyek Kristenisasi yang menipu. Di
antaranya lewat nikah antar agama, ajakan natal bersama, mendirikan
rumah ibadah di lingkungan pemukiman muslim, hingga anjuran untuk saling
mengucapkan selamat hari raya.
Kadang fatwa seperti itu malah
dimanfaatkan untuk merusak aqidah dan merontokkan iman umat Islam negeri
ini yang terkenal kurang kuat aqidahnya. Proyek Kristenisasi yang sudah
berjalan lebih dari 4 abad secara bergantian oleh para penjajah akan
mendapat aliran darah segar.
Apalagi kalangan aktifis
liberalis, tentu akan menari-nari kegirangan kalau mendengar adanya
fatwa yang membolehkan selamat natal. Fatwa ini akan mereka gunakan
sebagai senjata ampuh dalam mengikis habis semangat keislaman.
Sebab lewat fatwa-fatwa seperti ini, perlahan-lahan umat Islam semakin
terseret ikut arus Kristenisasi. Kalau pun fatwa bolehnya mengucapkan
natal ini mau dipakai, harus didampingi dengan fatwa lain, misalnya
haramnya umat Islam menyekolahkan anak di sekolah-sekolah milik yayasan
kristen, termasuk perguruan tingginya, walau pun gratis atau beasiswa.
Juga harus ada fatwa haramnya umat Islam dirawat di rumah sakit,
dipelihara di panti asuhan Kristen, termasuk sumbangan dari yayasan
milik mereka.
Kalau perlu juga harus ada fatwa haramnya umat
Islam membeli buku, majalah, koran, tabloid atau pun bentuk-bentuk
penerbitan lain yang dikelola oleh penerbit-penerbit yang secara tegas
menyatakan kekristenannya.
Tapi tentu akan jadi ironi, lantaran
umat Islam masih belum memiliki semua itu dalam jumlah yang memadai dan
memenuhi standar kualitas yang mumpuni. Umat Islam masih butuh puluhan
bahkan ratusan rumah sakit yang islami, dalam arti memang didedikasikan
buat kemanusiaan, bukan sekedar bisnis cari uang.
Umat Islam
masih rajin menyekolahkan anak di sekolah dan kampus milik agama lain
dengan beragam alasan. Ada yang berasalan masalah kualitas, ada yang
karena murah atau gratis. Bahkan ada yang sekedar mengejar gengsi. Walau
pun mereka tahu bahwa hal itu beresiko tergadainya iman dan aqidah.
Anehnya, justru yang sekolah disana mayoritas malah umat Islam, bukan
umat Kristiani.
Wallahu alam bishshawab, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
September 05, 2011
PANCA SALAH 2011
1. Keuangan yang paling berkuasa
2. Korupsi yang adil dan merata
3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia
4. Kekuasaan yg dipimpin oleh nafsu kebejatan dalam persekongkolan dan kepura-puraan
5. kenyamanan sosial bagi seluruh kerabat pejabat dan wakil rakyat
Agustus 01, 2011
Bekas Sujud
Diriwayatkan dari Rabi'ah bin Ka'b bahwa ia berkata, "Aku menginap bersama Nabi SAW dan membantu beliau untuk menyiapkan air wudhunya dan kebutuhan lainnya." Kemudian, Rasulullah bersabda, "Mintalah sesuatu kepadaku." Aku menjawab, "Aku mohon agar bisa menemanimu di surga." Beliau menjawab, "Bukan lainnya?" Aku berkata, "Hanya itu saja. Lalu, Nabi SAW bersabda, "Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud." (HR Ahmad, Muslim, An Nasai, dan Abu Daud).
Hadis ini menganjurkan kita untuk memperbanyak sujud, ruku, dan mendirikan shalat wajib ditambah dengan tathawwu' (shalat sunat) bila kita ingin masuk surga.
Sujud merupakan ibadah istimewa dalam Islam, karena merupakan salah satu rukun shalat dengan cara meletakkan tujuh anggota badan di atas tanah (muka, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki). Posisi demikian mencerminkan sikap merendah di hadapan keagungan Ilahi. Allah menegaskan, "Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)." (QS Al-'Alaq: 19).
Sujud akan menanamkan ketawadhuan dalam diri kepada sesama manusia dan memancarkan sinar keimanan dan kelembutan melalui wajahnya. Inilah bekas sujud yang diharapkan sebagai amalan penolong masuk surga.
Mi'dan bin Abi Tholhah berkata, "Aku bertemu Tsauban, budak Rasulullah SAW." Lalu, dia bertanya, "Beritahukan kepadaku amalan yang bila aku lakukan maka Allah akan memasukkanku dengannya ke dalam surga." Tsauban diam. Lalu, aku tanya lagi, tapi dia masih diam dan aku tanyakan yang ketiga maka ia menjawab, "Aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Kamu harus memperbanyak sujud karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud sekali kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan dengannya satu dosa." (HR Muslim, Turmudzi, dan an-Nasa'i).
Kita dianjurkan untuk memperpanjang sujud bila shalat munfaridah (sendiri) karena Rasulullah menyindir orang-orang yang sujudnya cepat, dengan ungkapan bahwa mereka mematuk seperti ayam jago mematuk butiran makanan.
Sujud yang serius akan meninggalkan bekas di wajah orang Mukmin. "Kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." (QS Al-Fath 29).
Bekas sujud inilah yang akan ditampakkan setiap Muslim via wajahnya. Di antara bekas sujud yang terpancar di setiap muka Muslim adalah ketundukan kepada keagungan Allah, ketawadhuan terhadap sesama insan, kelembutan, senyuman, menundukkan pandangan mata, membasahi bibir dengan zikrullah, sikap kasih sayang kepada anak yatim, fakir, dan miskin.
Sejalan dengan ini, dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa Rasulullah berkata, "Aku hanyalah menerima shalat dari orang yang tawadhu terhadap keagungan-Ku, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak terus-menerus mendurhakai-Ku, selalu menggunakan siangnya untuk zikir kepada-Ku, mengasihi anak yatim, janda-janda, fakir, dan menyayangi orang yang tertimpa musibah. (HR Al-Bazzar).
Tanda hitam di dahi Muslim adalah salah satu ciri bahwa dia sering melakukan shalat. Namun, bekas sujud yang dikehendaki Allah adalah sikap tawadhu, kelembutan, kepedulian, dan kasih sayang yang dipancarkan wajah setiap Muslim. Wallahu a'lam.
Achmad Satori Ismail
Hadis ini menganjurkan kita untuk memperbanyak sujud, ruku, dan mendirikan shalat wajib ditambah dengan tathawwu' (shalat sunat) bila kita ingin masuk surga.
Sujud merupakan ibadah istimewa dalam Islam, karena merupakan salah satu rukun shalat dengan cara meletakkan tujuh anggota badan di atas tanah (muka, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki). Posisi demikian mencerminkan sikap merendah di hadapan keagungan Ilahi. Allah menegaskan, "Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)." (QS Al-'Alaq: 19).
Sujud akan menanamkan ketawadhuan dalam diri kepada sesama manusia dan memancarkan sinar keimanan dan kelembutan melalui wajahnya. Inilah bekas sujud yang diharapkan sebagai amalan penolong masuk surga.
Mi'dan bin Abi Tholhah berkata, "Aku bertemu Tsauban, budak Rasulullah SAW." Lalu, dia bertanya, "Beritahukan kepadaku amalan yang bila aku lakukan maka Allah akan memasukkanku dengannya ke dalam surga." Tsauban diam. Lalu, aku tanya lagi, tapi dia masih diam dan aku tanyakan yang ketiga maka ia menjawab, "Aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Kamu harus memperbanyak sujud karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud sekali kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan dengannya satu dosa." (HR Muslim, Turmudzi, dan an-Nasa'i).
Kita dianjurkan untuk memperpanjang sujud bila shalat munfaridah (sendiri) karena Rasulullah menyindir orang-orang yang sujudnya cepat, dengan ungkapan bahwa mereka mematuk seperti ayam jago mematuk butiran makanan.
Sujud yang serius akan meninggalkan bekas di wajah orang Mukmin. "Kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." (QS Al-Fath 29).
Bekas sujud inilah yang akan ditampakkan setiap Muslim via wajahnya. Di antara bekas sujud yang terpancar di setiap muka Muslim adalah ketundukan kepada keagungan Allah, ketawadhuan terhadap sesama insan, kelembutan, senyuman, menundukkan pandangan mata, membasahi bibir dengan zikrullah, sikap kasih sayang kepada anak yatim, fakir, dan miskin.
Sejalan dengan ini, dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa Rasulullah berkata, "Aku hanyalah menerima shalat dari orang yang tawadhu terhadap keagungan-Ku, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak terus-menerus mendurhakai-Ku, selalu menggunakan siangnya untuk zikir kepada-Ku, mengasihi anak yatim, janda-janda, fakir, dan menyayangi orang yang tertimpa musibah. (HR Al-Bazzar).
Tanda hitam di dahi Muslim adalah salah satu ciri bahwa dia sering melakukan shalat. Namun, bekas sujud yang dikehendaki Allah adalah sikap tawadhu, kelembutan, kepedulian, dan kasih sayang yang dipancarkan wajah setiap Muslim. Wallahu a'lam.
Achmad Satori Ismail
Setan Bisu
Dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah disebutkan, "Yang tidak meyuarakan kebenaran adalah setan bisu." (Lihat hlm 62 bab as-shumti). Ungkapan ini bukan hadis, tapi dikutip oleh banyak ulama dalam fatwa dan kitab-kitab mereka. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam Majmu' fatawa. Ibnu al-Qayyim juga menukilnya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juga mengutipnya dari Abi al-Qasim al-Qusyairy yang meriwayatkan dari Abu 'Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi as-Syafi'i. Kemungkinan besar Abu Ali ad-Daqqaq inilah yang pertama mengutip ungkapan di atas. Kendati bukan hadis, isi dan jiwa kalimat tersebut sejalan dengan QS Ali Imran ayat 104, at-Taubah:71, dan lainnya. Juga seirama dengan makna banyak hadis amar makruf dan nahi mungkar.
Setiap mukmin berkewajiban untuk mengingkari yang batil dan menyeru kepada yang makruf sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah bersabda, "Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan (atau kekuasaannya) bila tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan lisannya (nasihat) dan bila tidak kuasa maka hendaklah mengingkari dengan hatinya, yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman." (HR Imam Muslim).
Bila seorang Muslim tidak melakukan nahi mungkar padahal mampu dan tidak ada penghalang maka dia adalah setan gagu. Lebih parah lagi bila ada orang yang menyuarakan kebatilan, dia dijuluki sebagai jubir setan.
Kita sering menyaksikan Muslim yang komitmen menegakkan amar makruf dan nahi mungkar tetapi tidak mau menyuarakan yang hak ketika melihat pelanggaran yang sudah merata di masyarakat. Di antara sebabnya, rasa takut dimusuhi ahlul bathil, khawatir dicopot dari jabatannya, takut diisolir dari masyarakatnya seperti yang dialami Siami di Surabaya atau disebabkan hal-hal lainnya.
Kebaikan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang tidak menyuarakan yang hak ketika melihat larangan Allah ditabrak, batas-batas ajaran agama dilanggar dan ketentuan agama ditinggalkan? Bukankah musibah agama terbesar datang dari mereka yang merasa enak hidupnya, dan memiliki jabatan mapan tapi tidak peduli dengan musibah yang menimpa agamanya?
Umat Islam masih menjadi umat terbaik bila amar makruf dan nahi mungkar ditegakkan. "Kamu adalah umat Yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, manyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imran, 110).
Ketika maksiat berkeliaran di tengah-tengah umat manusia, penyelewengan merata di mana-mana sedangkan setan bisu dan jubir setan semakin banyak, maka Allah akan menimpakan kepada umat ini beberapa malapetaka yang mengerikan: pertama, diberi musibah merata; kedua, umat akan dikuasai preman; ketiga, manusia akan saling bunuh; dan keempat, doa ulama tidak dikabulkan.
Abu Nu'aim meriwayatkan dalam Kitab Al-Hilyah, dari Abur Riqaad, bahwa ia berkata, "Hendaknya kamu memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar, dan menyuruh kebaikan atau kamu sekalian akan disiksa bersama atau kamu diperintah oleh orang-orang jahat di antara kamu kemudian bila para tokohnya berdoa tidak lagi akan dikabulkan. Na'udzubillah mindzalik.
Prof Dr KH Achmad Satori Ismail
Setiap mukmin berkewajiban untuk mengingkari yang batil dan menyeru kepada yang makruf sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah bersabda, "Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan (atau kekuasaannya) bila tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan lisannya (nasihat) dan bila tidak kuasa maka hendaklah mengingkari dengan hatinya, yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman." (HR Imam Muslim).
Bila seorang Muslim tidak melakukan nahi mungkar padahal mampu dan tidak ada penghalang maka dia adalah setan gagu. Lebih parah lagi bila ada orang yang menyuarakan kebatilan, dia dijuluki sebagai jubir setan.
Kita sering menyaksikan Muslim yang komitmen menegakkan amar makruf dan nahi mungkar tetapi tidak mau menyuarakan yang hak ketika melihat pelanggaran yang sudah merata di masyarakat. Di antara sebabnya, rasa takut dimusuhi ahlul bathil, khawatir dicopot dari jabatannya, takut diisolir dari masyarakatnya seperti yang dialami Siami di Surabaya atau disebabkan hal-hal lainnya.
Kebaikan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang tidak menyuarakan yang hak ketika melihat larangan Allah ditabrak, batas-batas ajaran agama dilanggar dan ketentuan agama ditinggalkan? Bukankah musibah agama terbesar datang dari mereka yang merasa enak hidupnya, dan memiliki jabatan mapan tapi tidak peduli dengan musibah yang menimpa agamanya?
Umat Islam masih menjadi umat terbaik bila amar makruf dan nahi mungkar ditegakkan. "Kamu adalah umat Yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, manyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imran, 110).
Ketika maksiat berkeliaran di tengah-tengah umat manusia, penyelewengan merata di mana-mana sedangkan setan bisu dan jubir setan semakin banyak, maka Allah akan menimpakan kepada umat ini beberapa malapetaka yang mengerikan: pertama, diberi musibah merata; kedua, umat akan dikuasai preman; ketiga, manusia akan saling bunuh; dan keempat, doa ulama tidak dikabulkan.
Abu Nu'aim meriwayatkan dalam Kitab Al-Hilyah, dari Abur Riqaad, bahwa ia berkata, "Hendaknya kamu memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar, dan menyuruh kebaikan atau kamu sekalian akan disiksa bersama atau kamu diperintah oleh orang-orang jahat di antara kamu kemudian bila para tokohnya berdoa tidak lagi akan dikabulkan. Na'udzubillah mindzalik.
Prof Dr KH Achmad Satori Ismail
Juli 15, 2011
Langganan:
Postingan (Atom)